"Wah, Nis, kalau menurut primbon Jawa, hidupmu banyak masalahnya," kata seorang teman kantor yang kebetulan lahir dari keluarga Jawa yang sangat Njawani, masih percaya primbon dan bisa membaca primbon.
Bukan bermaksud menyekutukan Allah SWT, tapi penasaran juga waktu si teman ini membacakan karakter dan kehidupan saya sebagai orang yang, menurut penanggalan Jawa, lahir di Jumat Wage. Menanggapi perkataan teman saya tadi, saya hanya berseru, "Whaaaaat?!".
Lalu teman saya melanjutkan, katanya dalam hidup saya akan banyak jatuh iba terhadap orang lain, sehingga tanpa disadari saya menanggung beban masalah orang-orang yang ada di sekitar saya. Itu sebabnya hidup saya akan banyak masalahnya.
Pembacaan primbon dari teman saya tadi, sesungguhnya sejalan dengan hasil tes kepribadian Myers Briggs , dari tes itu saya adalah tipe INFJ yang punya kesulitan menolak membantu orang lain, walhasil saya seringkali (tanpa sadar) didaulat untuk membereskan kekacauan yang diperbuat orang lain. Dan kalau dipikir-pikir lagi, memang ada benarnya, sih. Kasihan ya, saya. Hahahaha...
Lalu teman saya melanjutkan pembacaan primbon-nya. Katanya, saya tidak perlu khawatir, karena Gusti Allah mboten sare (tidak tidur). Saya diciptakan mengemban banyak masalah, namun dibarengi dengan kemudahan-kemudahan ekstra yang mengikuti hidup saya. Apapun masalahnya, seberat apapun kelihatannya, Allah akan selalu kasih jalan keluar buat saya.
Terlepas dari urusan primbon-primbonan, kalimat "Gusti Allah mboten sare" sungguh menyentuh hati dan rasa. Betapa seringnya saya sibuk sendiri, tenggelam dalam tumpukan urusan yang menuntut diselesaikan, belum lagi aneka ragam masalah yang terjadi (ya namanya hidup tidak mungkin lempeng tanpa masalah kan, ya?), hingga akhirnya lupa bahwa setiap waktu berjalan ke depan, setiap hari terlewati, hingga akhirnya saya berada di sini dalam kondisi sangat baik-baik saja, adalah bukti bahwa Allah tidak tidur.
Dia Maha Tahu apapun yang terjadi, bahkan segala sesuatu yang saya sembunyikan rapat-rapat dari orang lain. Allah melihat, mendengar, mengetahui. Allah sungguh tidak tidur, setiap masalah yang terjadi, setiap ujian selalu diberikan-Nya bersamaan dengan jalan keluar. Mengingat kasih sayang Allah sungguh membuat segalanya jadi lebih ringan. Kesalahan apapun yang kita lakukan, selama kita berusaha melakukan yang terbaik, tidak menyerah untuk memperbaiki diri, pasti ada jalan keluar.
Mulai sekarang, saat hidup terasa berat, saat hari-hari terasa lambat dan menambah penat, saya harus selalu ingat, "Gusti Allah mboten sare."
Monday, January 26, 2015
Thursday, January 15, 2015
The Land of the Remembered
What are your choices when someone holds a gun to your head? You do what they say or they shoot you, right? Wrong! You take the gun. You pull out a bigger gun or you call their bluff or you do one of another 146 other things. - Harvey SpecterSaat direnungi, sebenarnya kita seringkali berada dalam kondisi dimana seolah-olah kita berada di bawah ancaman senjata dari seseorang atau sesuatu. Si pemegang senjata bisa orang lain, bisa sebuah keadaan yang tidak kita sukai, bisa juga diri kita sendiri. Siapapun si pemegang senjata itu, seperti apa yang Harvey Specter katakan di quote di atas, kita harus bisa mengambil alih kontrolnya, apapun caranya.
Bukan cuma kondisi menyenangkan yang bisa membuat manusia terlena, kondisi buruk yang membuat jenuh dan stuck pun sesungguhnya bisa melenakan. Membuat kita berkubang dalam kemalasan untuk berbuat sesuatu, karena merasa bahwa keadaan toh tidak akan berubah. Itu juga yang akhir-akhir ini saya rasakan, yang menempatkan saya di bawah ancaman "senjata" yang membuat saya tidak bisa (tidak mau) bergerak. Hingga beberapa hari terakhir saya mencoba berpikir dari sudut pandang berbeda.
Saya mungkin tidak menyukai keadaan dimana saya berada sekarang, tapi saya tahu pasti apa yang saya sukai, diri saya sendiri. Bukan bermaksud menjadi seorang narsistik, hanya menegaskan pada diri sendiri bahwa saya tahu siapa saya. Saya bukan orang yang mudah menyerah, I'm not a good loser and I love that part about me. Setiap ditempatkan pada pilihan antara bertahan atau menyerah, saya selalu memilih opsi pertama. Ada banyak cara yang masih bisa saya coba untuk mengubah sesuatu. Tentunya dengan menyadari porsi dan peta kekuatan saya sendiri. Intinya melakukan apapun in my power.
Saya kembali pada keyakinan bahwa saat kita melakukan apapun dari hati dan dengan usaha terbaik, akan memberikan sesuatu yang baik pula, setidaknya untuk diri saya sendiri. Pun jika saya pada akhirnya memilih untuk berhenti dan pergi, setidaknya saya meninggalkan kesan manis, yang membuat saya (dan orang lain) melihat dan mengingat diri saya sebagai pribadi yang selalu memberikan usaha terbaiknya.
Dalam budaya Mexico, ada yang disebut The Day of the Dead dimana di hari itu, seluruh keluarga berkumpul untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Budaya ini kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam film berjudul "The Book of Life" yang menceritakan adanya dua dunia untuk mereka yang sudah mati, the land of the remembered yang seindah surga, dan the land of the forgotten yang semenyedihkan neraka. Bagi mereka yang selalu dikenang dan didoakan akan tetap tinggal di the land of the remembered, sedangkan mereka yang terlupakan akan berada di the land of forgotten menunggu waktu jiwa mereka hancur menjadi debu.
Walaupun tidak berdarah Mexico pun mengamini budaya di atas, tapi saya rasa tak satu pun manusia di dunia mau terpuruk di the land of the forgotten. Maka saya melakukan yang terbaik sepanjang saya bisa, bukan untuk menang dan berada di atas, melainkan sesederhana untuk menjadikan diri saya layak berada di the land of the remembered.
Saturday, January 10, 2015
Rindu
Aku rindu kamu...
Bolak balik aku cari namamu di daftar nomor telepon, di handphone, membuka aplikasi chat, tapi rasanya jari-jari ini kaku bahkan untuk mengetik kata "halo". Aku terlalu gengsi untuk menghubungimu, padahal hati ini menjerit, "Aku rindu kamu!".
Bolak balik aku cari namamu di daftar nomor telepon, di handphone, membuka aplikasi chat, tapi rasanya jari-jari ini kaku bahkan untuk mengetik kata "halo". Aku terlalu gengsi untuk menghubungimu, padahal hati ini menjerit, "Aku rindu kamu!".
Sudah jam 2 pagi, tapi aku tidak kunjung bisa memejamkan mata. Apakah ini bukti bahwa dini hari memang adalah waktu bagi para pecinta terjaga karena kantuknya habis dimakan rindu? Ah, terlalu picisan buatku.
Aku ambil lagi handphone yang sedari tadi tergeletak bisu di depanku. Pikirku, mungkin kutelepon saja kamu, supaya rindu ini berlalu setelah mendengar suaramu. Tapi tabu buatku menjadi perempuan yang mati-matian mengejarmu. Dimana harga diriku jika aku mengemis perhatian dari orang yang jelas-jelas tak punya minat yang sama besarnya?
Aduh, lagi-lagi logika dan rasa beradu. Coba lagi atau sudah menyerah saja? Ah sudahlah, peduli setan apa yang logika dan rasa katakan, yang manapun yang lebih lantang tak akan mengubah fakta bahwa aku rindu kamu. Titik.
(Ditulis ketika lagu Ariana Grande - One Last Time mengalun dari playlist iTunes)
Saturday, December 6, 2014
Closure
When you left a relationship, always aim for a clean break.
Avoid open wound, since each and every human being worth a closure. A proper one.Dalam salah satu artikel yang saya baca, saat saya mencari informasi tentang pentingnya closure bagi manusia, saya menemukan bahwa secara alami otak manusia akan mencari penjelasan untuk segala hal yang terjadi dalam hidup mereka. Sebagai contoh, saat kita melihat empat buah titik di atas sebuah bidang, masing-masing ditempatkan di kanan atas, kanan bawah, kiri atas, dan kanan atas, secara otomatis otak kita akan menggambar bentuk segi empat, padahal empat buah titik tadi sebenarnya bisa membentuk apa saja. Itu adalah usaha otak kita untuk memberikan closure dan menutup jarak antara ketidaktahuan kita dengan fenomena yang terjadi.
Maaf jika penjelasan di atas membuat kening berkerut, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut, kok. Pembahasan mengenai closure di atas sesungguhnya dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa hal yang sama juga terjadi dalam sebuah hubungan antar manusia. Saat hubungan berakhir, patah hati terjadi, maka tanpa disadari dua manusia yang terlibat dalam hubungan tadi akan mencari penjelasan penutup (closure) untuk membantu mereka benar-benar menyadari dan menerima bahwa hubungan telah berakhir. Biasanya yang paling membutuhkan adalah pihak yang ditinggalkan, dan yang "berkewajiban" untuk memberikan adalah yang meninggalkan.
Kabar buruknya, tidak semua hubungan yang berakhir menghasilkan closure yang memuaskan, lebih buruk lagi, bahkan banyak juga hubungan yang tidak mendapatkan closure sama sekali. Lantas jika ini terjadi, apa yang akan otak lakukan? Otak tidak akan menyerah, sudah menjadi tugasnya untuk mencari penjelasan demi menutup jarak antara ketidaktahuan dengan realita yang terjadi di depan mata. Akhirnya, lahirlah over think dan over analyze yang mana sesungguhnya teramat menyiksa dan bisa berakibat buruk pada psikologis seseorang. Tidak sedikit yang akhirnya menimbulkan depresi berat.
Baru saja, saya selesai menonton film Her, yang menceritakan hubungan seorang laki-laki yang patah hati akibat perceraian dengan sang istri, kemudian berkenalan dan menjalin hubungan dengan Artificial Intelligent Operating System. Terdengar geeky dan aneh memang, tapi ini sebenarnya film drama. Alasan saya menyinggung film ini adalah, saya menemukan sebuah contoh closure, yang menurut saya indah, tulus, dan - walaupun mungkin tidak bisa meredakan pedihnya patah hati - cukup bisa membuat lawan bicaranya dihargai.
Sebuah surat yang ditulis oleh sang pemeran utama kepada mantan istrinya:
Dear Catherine,
I've been sitting here thinking about all the things I wanted to apologize to you for.
All the pain we caused each other. Everything I put on you. Everything I needed you to be or needed you to say. I'm sorry for that.
I'll always love you, cause we grew up together and you helped make me who I am.
I just wanted you to know there will be a piece of you in me always, and I'm grateful for that. Whatever someone you become, and wherever you are in the world, I'm sending you love. You're my friend to the end.
Love,
Theodore.
Bagaimanapun akhir sebuah hubungan, hampir dipastikan akan menyisakan luka. Sebuah akhir (closure) yang baik setidaknya dapat meringankan beban rasa dan pikiran. Sebuah bentuk penghargaan untuk kisah yang pernah tertulis sebelumnya. Cinta atau tidak lagi cinta bukanlah alasan untuk tidak menghargai perasaan orang lain. Closure yang baik pun menghindarkan dari resiko depresi dan segala akibat yang ditimbulkannya.
Ada yang sedang merencanakan mengakhiri sebuah hubungan mungkin? Remember to always aim for a clean break, berikan "hadiah" terakhir yang baik, closure.
Sunday, November 9, 2014
Cinta dan Doa
Saat otakku tak sibuk, kadang aku mengajak angan kembali ke
setahun lalu. Seandainya kamu tidak menyakitiku sedemikian rupa, menghancurkan
hati dan rasa hingga tak bersisa, mungkin sekarang kita masih bisa duduk bersama,
bicara dan tertawa atas canda, meski bukan sebagai pasangan. Tapi mungkin juga
tidak.
Aku mencintaimu saat itu, dan masih terasa hingga kini, jika
tidak tak mungkin aku masih merindukan pelukanmu. Jika bukan karena cinta yang
masih terasa, tak mungkin aku masih menitikkan air mata saat mengingatmu. Tapi
aku tidak lagi menginginkanmu, aku sudah melepaskanmu dengan cita-cita
bahagiamu tanpa aku. Doaku menyertaimu selalu. Aku selalu berharap Tuhan
menganugerahimu dengan mengabulkan segala doamu. Bukankah kerinduan sejati
adalah ketika dalam diam kita menyebut namanya dalam doa?
Tak henti aku mencaci diri sendiri. Menuding kebodohan
karena tak mampu jadi perempuan yang kamu harapkan. Hingga kini, masih ada kala dimana aku harus bersembunyi di balik tawa, menahan air mata yang memaksa keluar saat aku
mengingatmu. Lebih sulit melepaskan diri dari jerat rasa bersalah daripada
merelakan kamu pergi. Aku tahu tak mudah menyembuhkan luka sedalam ini. Aku
tahu dalam perjalanannya akan ada aral yang harus aku lewati. Keyakinan bahwa Tuhan tidak buta dan mendengar semua permohonan, selalu berhasil membuatku bertahan.
Cinta memang misteri yang sulit terpecahkan. Ada yang bilang
seharusnya cinta itu sederhana. Kenyataannya lebih banyak yang terjerat dalam
rumitnya dan akhirnya terjebak dalam luka akibat rasa yang tak tersampaikan,
atau janji yang tak terbukti.
Aku tidak dendam. Aku terlalu mencintai untuk bisa membenci.
Sesungguhnya aku sudah memaafkan. Tapi aku kesulitan mengembalikan kepercayaan,
bahkan untuk menjadi teman. Aku pun berharap bisa bertemu muka denganmu tanpa
canggung, bertukar senyum tanpa takut, saling bicara tanpa menyimpan kenangan,
tapi untuk dua orang yang pernah menjalin rasa selama 10 tahun, lalu harus
berhenti karena tersakiti, hal-hal tadi rasanya masih jauh dari bisa diwujudkan.
Aku berharap pada diri sendiri, semoga setelah tahun
berganti, masa berlalu, saat luka ini telah reda sakitnya, saat bekasnya telah
menipis dan memudar, kita bisa bertemu lagi dalam suasana berbeda. Semoga saat
itu aku telah berhasil melepas rasa bersalah dan kamu sudah meraih cita-cita
yang kamu idamkan. Begitulah, kini cintaku menjelma jadi doa.
*iringan alunan lagu Jejak Langkah
dari Glenn Fredly dan Tohpati menambah dalam emosi yang terasa, saat menuliskan
setiap kata di tulisan ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)