One thing that I can never stop noticing from her is how easy she became excited about everything, even the smallest things that come in her way. The things that for me, and maybe for most people, look so ordinary and even dreary.
I asked her once about this, and the answer was struck me in the heart, up until now. With a smile in her face, she said;
"Nothing's last forever. Good things don't last forever, nor bad things. I easily excited about things because I want to embrace anything that has, is, and will happen. I always believe that even the things that you think is so ordinary has potential to make you happy, try to see it in different way."
This girl will never stops captivating me. Just being around her is making me comfortable. I really hope she'll find eternal happiness in life, as she is a sweet little creature with a big heart.
Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts
Monday, October 12, 2015
Friday, August 28, 2015
Punya Anak atau Tidak?
Hidup itu penuh dengan pilihan. Mau menikah atau tidak?
Kalau sudah menikah, mau tetap bekerja atau jadi ibu rumah tangga full time? Mau punya anak atau tidak?
Kalau pun punya anak, mau melahirkan sendiri atau adopsi saja? Itu baru sedikit
contoh dari sekian banyak pilihan yang akan ada di hadapan kita, saat kita
beranjak dewasa.
Mengapa pernikahan dan keluarga yang saya jadikan contoh, di
atas? Karena saya tergelitik oleh sebuah artikel atau blog post seorang perempuan yang menyatakan sikapnya, bahwa dia
tidak mau punya anak, yang banyak beredar di media sosial, terutama Facebook.
Saya sendiri tidak mau memberikan penilaian apa-apa, karena saya percaya hidup
memang adalah pilihan. Lebih tepatnya, rentetan pilihan dengan tanggung jawab
yang mengikuti setelahnya.
Kembali ke soal keluarga, pernikahan dan anak. Pertanyaan
yang sampai saat ini masih datang pada saya, setelah perceraian dan mantan
suami saya menikah lagi, adalah, “Nissa mau nikah lagi, gak?”. Biasanya saya menanggapi dengan jawaban, “Kalau memang masih
ada jodohnya, saya tidak bisa menolak, kan? Tapi kalau pun memang harus hidup
sendirian, saya juga siap.” Dalam perkara ini, saya tidak memilih mau menikah
lagi atau tidak, saya memilih untuk menyiapkan diri apapun kemungkinan yang
terjadi di depan.
Pertanyaan lain yang kemudian ditanyakan adalah, “Cari suami
lagilah, emang kamu gak pengen punya anak?”. Membangun
keluarga adalah cita-cita buat saya. Sebuah warisan yang ingin saya tinggalkan,
jika nanti tiba waktunya saya dipanggil oleh Maha Pencipta. Tapi membangun
keluarga, buat saya, tidak lagi erat hubungannya dengan punya suami atau tidak.
Untuk saya, kalau memang tidak ada jodohnya lagi, bukan berarti saya tidak bisa
membangun keluarga lagi. Saya bisa membesarkan anak-anak yang kurang beruntung
bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan dibesarkan di dalam lingkungan
yang baik, bukan begitu? Menjadi seorang ibu kan tidak selalu berarti harus melahirkan, justru tanggung jawab
setelahnyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan.
Membesarkan anak adalah the
ultimate dream untuk saya. Mulai dari hal-hal kecil seperti menyanyikan
lagu nina bobo atau membacakan cerita pengantar tidur, hingga memilih sekolah
yang baik dan mengajarkan mereka nilai-nilai kehidupan, adalah tantangan yang
di satu sisi membuat takut, namun di sisi lain membuat hati tergetar. Apapun
yang saya lakukan sekarang memang adalah untuk mempersiapkan hidup saya ke
depan, termasuk di dalamnya suatu saat nanti saya ingin membesarkan anak, anak
siapapun itu.
Saya tidak akan mencemooh mereka yang memilih untuk enggan
mengemban tanggung jawab maha berat sebagai seorang ibu, pun tidak lantas
mengagungkan mereka yang dengan senang hati menjadi ibu. Keduanya punya cerita
dan latar belakang masing-masing yang mungkin kita tidak bisa lihat. Bukankah
semua orang punya perjuangan mereka masing-masing? Tidak ada satu pun dari kita
yang berhak menghakimi orang lain, apa lagi kalau kita tidak tahu apa-apa
tentang mereka.
Punya anak atau tidak, setiap manusia pasti punya tujuan
hidupnya sendiri-sendiri dan setiap tujuan pun ada jalannya masing-masing. Selama
tidak merugikan dan menyakiti orang lain, pun dijalani dengan penuh tanggung
jawab atas segala konsekuensi, menurut saya, pilihan apapun sah-sah saja.
Urusan dengan agama dan Tuhan, saya tidak bisa ikut-ikutan, karena itu hubungan
personal seseorang dengan penciptanya.
Saturday, August 15, 2015
Hati Hari Ini
"Kamu bukan yang aku mau. Kamu adalah kesalahan yang seharusnya tidak aku buat, tiga tahun lalu," katamu penuh amarah dan ekspresi jijik yang tersirat.
Aku diam. Tak berbicara apa-apa, pun menitikkan air mata. Aku mendengar hatimu, bukan kata-katamu. Aku merasakan perihmu, bukan amarahku. Aku melihat jiwamu, bukan tudingan jari telunjukmu, di wajahku.
Aku tahu, malam itu, saat kata-kata itu keluar dari mulutmu, kamu tengah bertarung melawan ego dan gengsi semu yang meliputi hati dan pikiranmu. Itu sebabnya aku memilih memandang lurus ke dalam matamu, bukan menyerangmu, meski tanganku bergetar menahan keinginan untuk menampar.
Kamu. Laki-laki yang aku perjuangkan sepenuh hatiku, bertahun-tahun lalu. Laki-laki yang mempersembahkan janjinya untuk menjadikanku sebelah sayap untuk terbang ke surga bersama-sama. Laki-laki yang sukses menyentuh hatiku dan mengajarkan arti kelembutan dan kepekaan rasa. Laki-laki yang kubiarkan masuk dalam wilayah terdalam dan menduduki tempat teristimewa. Laki-laki yang meminangku dengan sejuta asa di matanya.
Malam itu. Kamu seolah beralih rupa, menjadi laki-laki yang penuh benci. Laki-laki yang satu-satunya keinginannya adalah pergi. Laki-laki yang mengingkari semua janji. Laki-laki yang sepenuh akal dan hati berniat menyakiti. Laki-laki yang tak lagi kenal bahasa hati. Laki-laki yang akhirnya membunuhku dengan bisa yang tak terperi. Laki-laki yang tak malu mengkhianati.
"Kamu bukan istri yang memenuhi harapanku. Kamu membuat aku bimbang harus memilih di antara dua, kamu atau dia," ujarmu gamblang mengungkap cinta untuk lain wanita.
Saat itu. Aku tak mendengar ucapmu, aku mencoba selami pikir dan rasa. Aku tak memandang wajahmu, aku mencoba mengintip jiwa lewat dua bola mata. Hingga aku tersadar, kamu sudah tak ada. Kamu yang aku cinta sudah menguap entah kemana. Hati dan jiwa itu, bukan lagi hati dan jiwa yang mengucap sumpah di hadapan Tuhan, untuk membangun mimpi dan kebahagiaan. Bola mata itu, bukan lagi bola mata yang mengantarkan senyuman. Kamu sudah bukan laki-laki itu lagi.
"Dia berhasil membuatmu jadi ksatria yang rela memperjuangkan apa saja demi mempersunting dirinya. Dia menyiramimu dengan bahagia yang selalu kamu damba dan puja. Dia membuatmu bangga. Saat kamu harus memilih antara aku atau dia, artinya kamu harus memilih dia, karena aku bukan pilihan, aku adalah kepastian yang tidak kamu inginkan. Pergilah padanya, tak usah cemas, aku sudah memaafkan," ujarku, saat akhirnya aku bisa melafal kata, setelah sekian lama bibir kelu karena mati rasa. Maka malam itu, adalah malam terakhir aku mengharapkanmu. Malam terakhir aku menahanmu dan mencoba mempertahankan cintaku.
Hari ini, 14 bulan setelah malam itu. Aku mendapati kamu telah memenangkan apa yang kamu inginkan. Mempersunting sang wanita idaman yang menjanjikan harapan kebahagiaan, hingga akhir zaman. Awalnya aku pikir aku akan kembali terluka mengetahuinya, ternyata tidak. Aku turut tersenyum bahagia melihat fotomu bersanding dengannya di pelaminan. Dalam hening aku mengucap doa, agar kamu dan dia bahagia mengarungi bahtera yang demikian mahal harganya. Sesungguhnya, aku lega, karena jawaban itu tiba juga.
Hari ini, 14 bulan setelah malam itu. Aku tahu bahwa aku sudah jadi lebih dewasa menghadapi dunia. Aku mengerti bahwa kini hati telah bebas dari amarah dan rasa benci, bahwa ini hanya bagian dari hidup yang harus aku jalani. Dan pemahaman ini membuatku lebih berani dan semakin meyakini bahwa aku bisa tempatkan hati dan kepala di udara, dengan dua kaki tetap di bumi.
(Ditulis dengan alunan piano dari lagu Dewa 19, "Cinta Kan Membawamu")
Aku diam. Tak berbicara apa-apa, pun menitikkan air mata. Aku mendengar hatimu, bukan kata-katamu. Aku merasakan perihmu, bukan amarahku. Aku melihat jiwamu, bukan tudingan jari telunjukmu, di wajahku.
Aku tahu, malam itu, saat kata-kata itu keluar dari mulutmu, kamu tengah bertarung melawan ego dan gengsi semu yang meliputi hati dan pikiranmu. Itu sebabnya aku memilih memandang lurus ke dalam matamu, bukan menyerangmu, meski tanganku bergetar menahan keinginan untuk menampar.
Kamu. Laki-laki yang aku perjuangkan sepenuh hatiku, bertahun-tahun lalu. Laki-laki yang mempersembahkan janjinya untuk menjadikanku sebelah sayap untuk terbang ke surga bersama-sama. Laki-laki yang sukses menyentuh hatiku dan mengajarkan arti kelembutan dan kepekaan rasa. Laki-laki yang kubiarkan masuk dalam wilayah terdalam dan menduduki tempat teristimewa. Laki-laki yang meminangku dengan sejuta asa di matanya.
Malam itu. Kamu seolah beralih rupa, menjadi laki-laki yang penuh benci. Laki-laki yang satu-satunya keinginannya adalah pergi. Laki-laki yang mengingkari semua janji. Laki-laki yang sepenuh akal dan hati berniat menyakiti. Laki-laki yang tak lagi kenal bahasa hati. Laki-laki yang akhirnya membunuhku dengan bisa yang tak terperi. Laki-laki yang tak malu mengkhianati.
"Kamu bukan istri yang memenuhi harapanku. Kamu membuat aku bimbang harus memilih di antara dua, kamu atau dia," ujarmu gamblang mengungkap cinta untuk lain wanita.
Saat itu. Aku tak mendengar ucapmu, aku mencoba selami pikir dan rasa. Aku tak memandang wajahmu, aku mencoba mengintip jiwa lewat dua bola mata. Hingga aku tersadar, kamu sudah tak ada. Kamu yang aku cinta sudah menguap entah kemana. Hati dan jiwa itu, bukan lagi hati dan jiwa yang mengucap sumpah di hadapan Tuhan, untuk membangun mimpi dan kebahagiaan. Bola mata itu, bukan lagi bola mata yang mengantarkan senyuman. Kamu sudah bukan laki-laki itu lagi.
"Dia berhasil membuatmu jadi ksatria yang rela memperjuangkan apa saja demi mempersunting dirinya. Dia menyiramimu dengan bahagia yang selalu kamu damba dan puja. Dia membuatmu bangga. Saat kamu harus memilih antara aku atau dia, artinya kamu harus memilih dia, karena aku bukan pilihan, aku adalah kepastian yang tidak kamu inginkan. Pergilah padanya, tak usah cemas, aku sudah memaafkan," ujarku, saat akhirnya aku bisa melafal kata, setelah sekian lama bibir kelu karena mati rasa. Maka malam itu, adalah malam terakhir aku mengharapkanmu. Malam terakhir aku menahanmu dan mencoba mempertahankan cintaku.
Hari ini, 14 bulan setelah malam itu. Aku mendapati kamu telah memenangkan apa yang kamu inginkan. Mempersunting sang wanita idaman yang menjanjikan harapan kebahagiaan, hingga akhir zaman. Awalnya aku pikir aku akan kembali terluka mengetahuinya, ternyata tidak. Aku turut tersenyum bahagia melihat fotomu bersanding dengannya di pelaminan. Dalam hening aku mengucap doa, agar kamu dan dia bahagia mengarungi bahtera yang demikian mahal harganya. Sesungguhnya, aku lega, karena jawaban itu tiba juga.
Hari ini, 14 bulan setelah malam itu. Aku tahu bahwa aku sudah jadi lebih dewasa menghadapi dunia. Aku mengerti bahwa kini hati telah bebas dari amarah dan rasa benci, bahwa ini hanya bagian dari hidup yang harus aku jalani. Dan pemahaman ini membuatku lebih berani dan semakin meyakini bahwa aku bisa tempatkan hati dan kepala di udara, dengan dua kaki tetap di bumi.
(Ditulis dengan alunan piano dari lagu Dewa 19, "Cinta Kan Membawamu")
Monday, April 6, 2015
Manusia Biasa
Aku suka ketinggian. Gunung, bukit, gedung pencakar langit, atau tempat tinggi manapun yang memungkinkan aku melihat segalanya lebih luas dan lepas. Aku selalu mencari ketinggian, saat raga sudah tak sanggup menahan rasa, saat benak rasanya mau meledak. Seperti malam ini.
Saat hati penuh, rasanya lidah pun kelu untuk berkeluh. Ingin bercerita, tapi tak tahu pada siapa dan mau berkata apa. Hanya pening yang dirasa. Itu sebabnya aku memilih berada di sini, di puncak gedung 20 lantai, bersama desau angin dan kerlip lampu kota, yang kunikmati sendiri.
Berada di ketinggian, membuat jarakku dengan langit lebih dekat, hingga kurasa kata-kata batinku akan tersampaikan dengan mudah dan lengkap, meski penat membuat suara tercekat. Saat menengadah dan menatap langit, rasanya aku kerdil dan lemah sekali, hingga tak kuasa lagi bendungan air mata menahani. Pecahlah sudah, terurai air mata, mengantar cerita dalam setiap bulirnya.
Kadang-kadang kita tak perlu berkata apa-apa, untuk mengungkap luka yang ternyata kita pun tak tahu pasti kapan sembuhnya. Kadang-kadang diam bisa bercerita lebih banyak daripada bicara. Kadang-kadang tanpa aksara pun sajak dapat nyaring bunyinya, melafaskan angkara, duka, kecewa, dan asa yang tak berbalas bertahun lamanya.
Kita ini manusia biasa, yang bisa jatuh lemah tak berdaya tak peduli seberapapun mahirnya kita berlaku jadi ksatria. Manusia biasa bukan batu karang yang kokoh bergeming meski ombak menderu hingga memasuki tiap pori tubuhnya. Manusia punya jiwa yang ada kalanya perlu terpuruk sesaat, berkalang lumpur, dan merendah serendah-rendahnya, di hadapan-Nya yang punya kekuatan di atas segalanya. Sekadar mengaduh, menitipkan beban, menyampaikan harapan, hingga menguras kantung air mata hingga tak bersisa.
Di sini, malam ini, aku absen berkata-kata. Aku hanya ingin limpahkan rasa lewat tatap dan bulir air mata. Hingga lega, hingga ruang dalam hati dan kepala kembali tertata, hingga cukup amunisi untuk kembali jadi ksatria. Menghadapi naik turun gelombang, pertukaran susah senang, hingga tiba saatnya lagi lelah menghadang, maka aku akan mencari tempat tinggi lagi, untuk bercerita pada-Mu lagi.
Monday, March 9, 2015
Qawwam
The phrase "qawwamuna 'ala an-nisa" (An-Nisa, [4]: 34) can be understood as "watch over", "protect", "support", "attend to", "look after", or "be in charge of" women. (Reza Aslan - No God but GOD)
Dari penjelasan secara etimologi saja jelas kan ya, bahwa untuk memenuhi kewajiban sebagai qawwam, memimpin saja tidak cukup. Laki-laki juga punya kewajiban melindungi, mendukung, menjaga, dan bertanggung jawab atas perempuan.
Sebaliknya, ini tidak berarti lantas perempuan bisa ongkang-ongkang kaki. Perempuan berkewajiban menjadi cerdas, kuat, namun lembut hatinya. Laki-laki mengemban tanggung jawab sedemikian berat, memerlukan penyeimbang yang bisa menguatkan. Nah, kalau perempuannya menyek-menyek gak bisa apa-apa, terus bagaimana bisa menguatkan?
Saya percaya agama saya mengajarkan bahwa dalam hidup semua perlu seimbang. Yang satu dilebihkan atas yang lain dalam beberapa hal, supaya bisa saling melengkapi. Ibarat jemari tangan kanan dan kiri, yang jika dikatupkan dapat saling mengisi dan saling terkait, hingga menyatu erat tak meninggalkan rongga.
Monday, January 26, 2015
Gusti Allah Mboten Sare
"Wah, Nis, kalau menurut primbon Jawa, hidupmu banyak masalahnya," kata seorang teman kantor yang kebetulan lahir dari keluarga Jawa yang sangat Njawani, masih percaya primbon dan bisa membaca primbon.
Bukan bermaksud menyekutukan Allah SWT, tapi penasaran juga waktu si teman ini membacakan karakter dan kehidupan saya sebagai orang yang, menurut penanggalan Jawa, lahir di Jumat Wage. Menanggapi perkataan teman saya tadi, saya hanya berseru, "Whaaaaat?!".
Lalu teman saya melanjutkan, katanya dalam hidup saya akan banyak jatuh iba terhadap orang lain, sehingga tanpa disadari saya menanggung beban masalah orang-orang yang ada di sekitar saya. Itu sebabnya hidup saya akan banyak masalahnya.
Pembacaan primbon dari teman saya tadi, sesungguhnya sejalan dengan hasil tes kepribadian Myers Briggs , dari tes itu saya adalah tipe INFJ yang punya kesulitan menolak membantu orang lain, walhasil saya seringkali (tanpa sadar) didaulat untuk membereskan kekacauan yang diperbuat orang lain. Dan kalau dipikir-pikir lagi, memang ada benarnya, sih. Kasihan ya, saya. Hahahaha...
Lalu teman saya melanjutkan pembacaan primbon-nya. Katanya, saya tidak perlu khawatir, karena Gusti Allah mboten sare (tidak tidur). Saya diciptakan mengemban banyak masalah, namun dibarengi dengan kemudahan-kemudahan ekstra yang mengikuti hidup saya. Apapun masalahnya, seberat apapun kelihatannya, Allah akan selalu kasih jalan keluar buat saya.
Terlepas dari urusan primbon-primbonan, kalimat "Gusti Allah mboten sare" sungguh menyentuh hati dan rasa. Betapa seringnya saya sibuk sendiri, tenggelam dalam tumpukan urusan yang menuntut diselesaikan, belum lagi aneka ragam masalah yang terjadi (ya namanya hidup tidak mungkin lempeng tanpa masalah kan, ya?), hingga akhirnya lupa bahwa setiap waktu berjalan ke depan, setiap hari terlewati, hingga akhirnya saya berada di sini dalam kondisi sangat baik-baik saja, adalah bukti bahwa Allah tidak tidur.
Dia Maha Tahu apapun yang terjadi, bahkan segala sesuatu yang saya sembunyikan rapat-rapat dari orang lain. Allah melihat, mendengar, mengetahui. Allah sungguh tidak tidur, setiap masalah yang terjadi, setiap ujian selalu diberikan-Nya bersamaan dengan jalan keluar. Mengingat kasih sayang Allah sungguh membuat segalanya jadi lebih ringan. Kesalahan apapun yang kita lakukan, selama kita berusaha melakukan yang terbaik, tidak menyerah untuk memperbaiki diri, pasti ada jalan keluar.
Mulai sekarang, saat hidup terasa berat, saat hari-hari terasa lambat dan menambah penat, saya harus selalu ingat, "Gusti Allah mboten sare."
Bukan bermaksud menyekutukan Allah SWT, tapi penasaran juga waktu si teman ini membacakan karakter dan kehidupan saya sebagai orang yang, menurut penanggalan Jawa, lahir di Jumat Wage. Menanggapi perkataan teman saya tadi, saya hanya berseru, "Whaaaaat?!".
Lalu teman saya melanjutkan, katanya dalam hidup saya akan banyak jatuh iba terhadap orang lain, sehingga tanpa disadari saya menanggung beban masalah orang-orang yang ada di sekitar saya. Itu sebabnya hidup saya akan banyak masalahnya.
Pembacaan primbon dari teman saya tadi, sesungguhnya sejalan dengan hasil tes kepribadian Myers Briggs , dari tes itu saya adalah tipe INFJ yang punya kesulitan menolak membantu orang lain, walhasil saya seringkali (tanpa sadar) didaulat untuk membereskan kekacauan yang diperbuat orang lain. Dan kalau dipikir-pikir lagi, memang ada benarnya, sih. Kasihan ya, saya. Hahahaha...
Lalu teman saya melanjutkan pembacaan primbon-nya. Katanya, saya tidak perlu khawatir, karena Gusti Allah mboten sare (tidak tidur). Saya diciptakan mengemban banyak masalah, namun dibarengi dengan kemudahan-kemudahan ekstra yang mengikuti hidup saya. Apapun masalahnya, seberat apapun kelihatannya, Allah akan selalu kasih jalan keluar buat saya.
Terlepas dari urusan primbon-primbonan, kalimat "Gusti Allah mboten sare" sungguh menyentuh hati dan rasa. Betapa seringnya saya sibuk sendiri, tenggelam dalam tumpukan urusan yang menuntut diselesaikan, belum lagi aneka ragam masalah yang terjadi (ya namanya hidup tidak mungkin lempeng tanpa masalah kan, ya?), hingga akhirnya lupa bahwa setiap waktu berjalan ke depan, setiap hari terlewati, hingga akhirnya saya berada di sini dalam kondisi sangat baik-baik saja, adalah bukti bahwa Allah tidak tidur.
Dia Maha Tahu apapun yang terjadi, bahkan segala sesuatu yang saya sembunyikan rapat-rapat dari orang lain. Allah melihat, mendengar, mengetahui. Allah sungguh tidak tidur, setiap masalah yang terjadi, setiap ujian selalu diberikan-Nya bersamaan dengan jalan keluar. Mengingat kasih sayang Allah sungguh membuat segalanya jadi lebih ringan. Kesalahan apapun yang kita lakukan, selama kita berusaha melakukan yang terbaik, tidak menyerah untuk memperbaiki diri, pasti ada jalan keluar.
Mulai sekarang, saat hidup terasa berat, saat hari-hari terasa lambat dan menambah penat, saya harus selalu ingat, "Gusti Allah mboten sare."
Thursday, January 15, 2015
The Land of the Remembered
What are your choices when someone holds a gun to your head? You do what they say or they shoot you, right? Wrong! You take the gun. You pull out a bigger gun or you call their bluff or you do one of another 146 other things. - Harvey SpecterSaat direnungi, sebenarnya kita seringkali berada dalam kondisi dimana seolah-olah kita berada di bawah ancaman senjata dari seseorang atau sesuatu. Si pemegang senjata bisa orang lain, bisa sebuah keadaan yang tidak kita sukai, bisa juga diri kita sendiri. Siapapun si pemegang senjata itu, seperti apa yang Harvey Specter katakan di quote di atas, kita harus bisa mengambil alih kontrolnya, apapun caranya.
Bukan cuma kondisi menyenangkan yang bisa membuat manusia terlena, kondisi buruk yang membuat jenuh dan stuck pun sesungguhnya bisa melenakan. Membuat kita berkubang dalam kemalasan untuk berbuat sesuatu, karena merasa bahwa keadaan toh tidak akan berubah. Itu juga yang akhir-akhir ini saya rasakan, yang menempatkan saya di bawah ancaman "senjata" yang membuat saya tidak bisa (tidak mau) bergerak. Hingga beberapa hari terakhir saya mencoba berpikir dari sudut pandang berbeda.
Saya mungkin tidak menyukai keadaan dimana saya berada sekarang, tapi saya tahu pasti apa yang saya sukai, diri saya sendiri. Bukan bermaksud menjadi seorang narsistik, hanya menegaskan pada diri sendiri bahwa saya tahu siapa saya. Saya bukan orang yang mudah menyerah, I'm not a good loser and I love that part about me. Setiap ditempatkan pada pilihan antara bertahan atau menyerah, saya selalu memilih opsi pertama. Ada banyak cara yang masih bisa saya coba untuk mengubah sesuatu. Tentunya dengan menyadari porsi dan peta kekuatan saya sendiri. Intinya melakukan apapun in my power.
Saya kembali pada keyakinan bahwa saat kita melakukan apapun dari hati dan dengan usaha terbaik, akan memberikan sesuatu yang baik pula, setidaknya untuk diri saya sendiri. Pun jika saya pada akhirnya memilih untuk berhenti dan pergi, setidaknya saya meninggalkan kesan manis, yang membuat saya (dan orang lain) melihat dan mengingat diri saya sebagai pribadi yang selalu memberikan usaha terbaiknya.
Dalam budaya Mexico, ada yang disebut The Day of the Dead dimana di hari itu, seluruh keluarga berkumpul untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Budaya ini kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam film berjudul "The Book of Life" yang menceritakan adanya dua dunia untuk mereka yang sudah mati, the land of the remembered yang seindah surga, dan the land of the forgotten yang semenyedihkan neraka. Bagi mereka yang selalu dikenang dan didoakan akan tetap tinggal di the land of the remembered, sedangkan mereka yang terlupakan akan berada di the land of forgotten menunggu waktu jiwa mereka hancur menjadi debu.
Walaupun tidak berdarah Mexico pun mengamini budaya di atas, tapi saya rasa tak satu pun manusia di dunia mau terpuruk di the land of the forgotten. Maka saya melakukan yang terbaik sepanjang saya bisa, bukan untuk menang dan berada di atas, melainkan sesederhana untuk menjadikan diri saya layak berada di the land of the remembered.
Saturday, December 6, 2014
Closure
When you left a relationship, always aim for a clean break.
Avoid open wound, since each and every human being worth a closure. A proper one.Dalam salah satu artikel yang saya baca, saat saya mencari informasi tentang pentingnya closure bagi manusia, saya menemukan bahwa secara alami otak manusia akan mencari penjelasan untuk segala hal yang terjadi dalam hidup mereka. Sebagai contoh, saat kita melihat empat buah titik di atas sebuah bidang, masing-masing ditempatkan di kanan atas, kanan bawah, kiri atas, dan kanan atas, secara otomatis otak kita akan menggambar bentuk segi empat, padahal empat buah titik tadi sebenarnya bisa membentuk apa saja. Itu adalah usaha otak kita untuk memberikan closure dan menutup jarak antara ketidaktahuan kita dengan fenomena yang terjadi.
Maaf jika penjelasan di atas membuat kening berkerut, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut, kok. Pembahasan mengenai closure di atas sesungguhnya dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa hal yang sama juga terjadi dalam sebuah hubungan antar manusia. Saat hubungan berakhir, patah hati terjadi, maka tanpa disadari dua manusia yang terlibat dalam hubungan tadi akan mencari penjelasan penutup (closure) untuk membantu mereka benar-benar menyadari dan menerima bahwa hubungan telah berakhir. Biasanya yang paling membutuhkan adalah pihak yang ditinggalkan, dan yang "berkewajiban" untuk memberikan adalah yang meninggalkan.
Kabar buruknya, tidak semua hubungan yang berakhir menghasilkan closure yang memuaskan, lebih buruk lagi, bahkan banyak juga hubungan yang tidak mendapatkan closure sama sekali. Lantas jika ini terjadi, apa yang akan otak lakukan? Otak tidak akan menyerah, sudah menjadi tugasnya untuk mencari penjelasan demi menutup jarak antara ketidaktahuan dengan realita yang terjadi di depan mata. Akhirnya, lahirlah over think dan over analyze yang mana sesungguhnya teramat menyiksa dan bisa berakibat buruk pada psikologis seseorang. Tidak sedikit yang akhirnya menimbulkan depresi berat.
Baru saja, saya selesai menonton film Her, yang menceritakan hubungan seorang laki-laki yang patah hati akibat perceraian dengan sang istri, kemudian berkenalan dan menjalin hubungan dengan Artificial Intelligent Operating System. Terdengar geeky dan aneh memang, tapi ini sebenarnya film drama. Alasan saya menyinggung film ini adalah, saya menemukan sebuah contoh closure, yang menurut saya indah, tulus, dan - walaupun mungkin tidak bisa meredakan pedihnya patah hati - cukup bisa membuat lawan bicaranya dihargai.
Sebuah surat yang ditulis oleh sang pemeran utama kepada mantan istrinya:
Dear Catherine,
I've been sitting here thinking about all the things I wanted to apologize to you for.
All the pain we caused each other. Everything I put on you. Everything I needed you to be or needed you to say. I'm sorry for that.
I'll always love you, cause we grew up together and you helped make me who I am.
I just wanted you to know there will be a piece of you in me always, and I'm grateful for that. Whatever someone you become, and wherever you are in the world, I'm sending you love. You're my friend to the end.
Love,
Theodore.
Bagaimanapun akhir sebuah hubungan, hampir dipastikan akan menyisakan luka. Sebuah akhir (closure) yang baik setidaknya dapat meringankan beban rasa dan pikiran. Sebuah bentuk penghargaan untuk kisah yang pernah tertulis sebelumnya. Cinta atau tidak lagi cinta bukanlah alasan untuk tidak menghargai perasaan orang lain. Closure yang baik pun menghindarkan dari resiko depresi dan segala akibat yang ditimbulkannya.
Ada yang sedang merencanakan mengakhiri sebuah hubungan mungkin? Remember to always aim for a clean break, berikan "hadiah" terakhir yang baik, closure.
Sunday, November 9, 2014
Cinta dan Doa
Saat otakku tak sibuk, kadang aku mengajak angan kembali ke
setahun lalu. Seandainya kamu tidak menyakitiku sedemikian rupa, menghancurkan
hati dan rasa hingga tak bersisa, mungkin sekarang kita masih bisa duduk bersama,
bicara dan tertawa atas canda, meski bukan sebagai pasangan. Tapi mungkin juga
tidak.
Aku mencintaimu saat itu, dan masih terasa hingga kini, jika
tidak tak mungkin aku masih merindukan pelukanmu. Jika bukan karena cinta yang
masih terasa, tak mungkin aku masih menitikkan air mata saat mengingatmu. Tapi
aku tidak lagi menginginkanmu, aku sudah melepaskanmu dengan cita-cita
bahagiamu tanpa aku. Doaku menyertaimu selalu. Aku selalu berharap Tuhan
menganugerahimu dengan mengabulkan segala doamu. Bukankah kerinduan sejati
adalah ketika dalam diam kita menyebut namanya dalam doa?
Tak henti aku mencaci diri sendiri. Menuding kebodohan
karena tak mampu jadi perempuan yang kamu harapkan. Hingga kini, masih ada kala dimana aku harus bersembunyi di balik tawa, menahan air mata yang memaksa keluar saat aku
mengingatmu. Lebih sulit melepaskan diri dari jerat rasa bersalah daripada
merelakan kamu pergi. Aku tahu tak mudah menyembuhkan luka sedalam ini. Aku
tahu dalam perjalanannya akan ada aral yang harus aku lewati. Keyakinan bahwa Tuhan tidak buta dan mendengar semua permohonan, selalu berhasil membuatku bertahan.
Cinta memang misteri yang sulit terpecahkan. Ada yang bilang
seharusnya cinta itu sederhana. Kenyataannya lebih banyak yang terjerat dalam
rumitnya dan akhirnya terjebak dalam luka akibat rasa yang tak tersampaikan,
atau janji yang tak terbukti.
Aku tidak dendam. Aku terlalu mencintai untuk bisa membenci.
Sesungguhnya aku sudah memaafkan. Tapi aku kesulitan mengembalikan kepercayaan,
bahkan untuk menjadi teman. Aku pun berharap bisa bertemu muka denganmu tanpa
canggung, bertukar senyum tanpa takut, saling bicara tanpa menyimpan kenangan,
tapi untuk dua orang yang pernah menjalin rasa selama 10 tahun, lalu harus
berhenti karena tersakiti, hal-hal tadi rasanya masih jauh dari bisa diwujudkan.
Aku berharap pada diri sendiri, semoga setelah tahun
berganti, masa berlalu, saat luka ini telah reda sakitnya, saat bekasnya telah
menipis dan memudar, kita bisa bertemu lagi dalam suasana berbeda. Semoga saat
itu aku telah berhasil melepas rasa bersalah dan kamu sudah meraih cita-cita
yang kamu idamkan. Begitulah, kini cintaku menjelma jadi doa.
*iringan alunan lagu Jejak Langkah
dari Glenn Fredly dan Tohpati menambah dalam emosi yang terasa, saat menuliskan
setiap kata di tulisan ini.
Sunday, October 12, 2014
Surat untuk Anak Perempuanku
Kemarin saya sudah publish surat yang dialamatkan kepada anak laki-laki saya nanti. Berikutnya adalah surat yang saya alamatkan kepada anak perempuan saya.
Meskipun saya belum pernah benar-benar berbicara langsung pada anak perempuan (anaknya juga belum ada dan entah kapan ada), tapi saat menulis surat ini saja terasa emosi yang berbeda, dibandingkan saat menulis surat kepada anak laki-laki. Berbicara pada anak perempuan seperti berbicara pada diri sendiri, sehingga pergulatan emosinya lebih terasa.
Oh iya, mungkin ini sesungguhnya detil yang tidak penting, tapi biarlah saya katakan. Saya ingin dipanggil "ibu" oleh anak-anak saya nanti. Tidak ada alasan khusus, rasanya lebih sederhana dan down to earth saja. Berikut surat saya sebagai "ibu" kepada anak perempuan saya:
Meskipun saya belum pernah benar-benar berbicara langsung pada anak perempuan (anaknya juga belum ada dan entah kapan ada), tapi saat menulis surat ini saja terasa emosi yang berbeda, dibandingkan saat menulis surat kepada anak laki-laki. Berbicara pada anak perempuan seperti berbicara pada diri sendiri, sehingga pergulatan emosinya lebih terasa.
Oh iya, mungkin ini sesungguhnya detil yang tidak penting, tapi biarlah saya katakan. Saya ingin dipanggil "ibu" oleh anak-anak saya nanti. Tidak ada alasan khusus, rasanya lebih sederhana dan down to earth saja. Berikut surat saya sebagai "ibu" kepada anak perempuan saya:
Dear anak perempuanku,
Pernah ada seorang teman ibu,
pemimpin redaksi sebuah surat kabar harian, berkata pada ibu, “Beruntunglah
kita yang terlahir sebagai perempuan, kita memiliki banyak sekali keistimewaan
dan keunggulan. Apapun tantangan yang ada di dunia ini, perempuan selalu bisa
mengatasi. Kita ini hebat.”
Putriku sayang, teman ibu itu
benar. Terlahir sebagai perempuan adalah anugerah besar. Jika laki-laki
ditunjuk sebagai pemimpin atau imam, perempuan adalah kekuatan penyeimbang.
Tugas perempuan adalah menopang apa-apa yang mulai goyah dan timpang. Pemimpin
dan penyeimbang adalah dua kekuatan yang sama, tak satu pun mengalahkan yang
satunya. Dua-duanya harus ada di dunia.
Mengapa ibu membuka surat ini
dengan memberitahumu bahwa perempuan tak kalah istimewa dari laki-laki, bahkan
kalian dilahirkan dengan peran yang sama pentingnya? Ibu tak ingin anak
perempuan ibu menjadi kecil karena didesak paham yang mengatakan bahwa fitrah perempuan
adalah di bawah laki-laki. Ibu tak ingin anak perempuan ibu tumbuh dalam
kebingungan, dimana mereka dituntut untuk menjadi pintar tapi jangan terlalu
pintar, mandiri tapi jangan terlalu mandiri, kuat tapi jangan terlalu kuat.
Nak, kamu punya hak yang sama
dengan laki-laki untuk berkembang dan maju. Menjadi banggalah atas dirimu
sendiri. Menjadi hebatlah atas kemampuan dan kemauanmu sendiri. Perempuan
diciptakan dari rusuk laki-laki, karena perempuan ditakdirkan berada bersisian
dengan laki-laki. Menopang saat mereka limbung, menguatkan saat mereka lemah,
menjadi hati saat mereka berlaku tanpa emosi, menjadi logika saat mereka
bertindak hanya dengan rasa. Menurutmu, perempuan seperti apa yang bisa
menjalankan peran seperti itu? Perempuan yang hebat.
Feminisme? Tidak. Ibu tidak
mengajarkanmu soal feminisme atau kesetaraan gender. Ibu mengajarkanmu menjadi
manusia yang sama dengan siapa saja. Manusia yang saling menghormati dengan
sesamanya, apapun jenis kelaminnya, berapapun umurnya, betapapun berbeda
keadaannya. Ibu tentu akan marah jika kamu lalu mengecilkan laki-laki, karena
kamu merasa lebih hebat dari mereka. Sama seperti ibu akan marah pada laki-laki
yang merendahkanmu karena merasa dirinya harus lebih tinggi darimu.
Jika suatu hari ada laki-laki
yang mengerti bagaimana membuatmu merasa bangga dan nyaman dengan dirimu,
menghormatimu seperti menghormati perempuan-perempuan lain dalam hidupnya, ibu
ingin bertemu dengannya. Mungkin dia adalah laki-laki yang Tuhan tunjuk untuk
jadi penjagamu sepanjang hayatnya, menggantikan peran ibu.
Setelah kamu mengerti posisi dan
peranmu, berangkatlah dari situ untuk melakukan yang terbaik yang kamu bisa
untuk hidupmu. Jadilah penyeimbang untuk siapa saja. Memberilah sebanyak kamu
bisa, karena semakin banyak memberi, semakin banyak yang akan kamu dapati.
Putriku sayang, ibu tidak akan
membekalimu dengan kunci hidup bahagia, karena sejujurnya ibu tidak punya, dan
memang tidak pernah ada yang punya. Jika banyak orang tua akan mendoakan
anak-anak mereka untuk bahagia selama hidupnya, sayangnya ibu tidak bisa. Ibu
akan mendoakan agar anak-anak ibu tumbuh menjadi anak yang kuat dan pantang
menyerah.
Selama kita masih hidup di dunia,
tidak ada satu pun yang abadi, pun demikian dengan kebahagiaan. Kamu tidak akan
mungkin bisa bahagia selamanya, pun tidak akan mungkin berduka selamanya.
Bahagia dan tidak bahagia akan datang bergantian, maka kamu harus bisa
mengatasi keduanya. Bagaimana caranya? Syukur dan ikhlas.
Menerima apapun yang terjadi
padamu sebagai bagian dari perjalanan hidup bukanlah perkara mudah. Mungkin
kamu akan merasakan luka terdalam hingga rasanya sakit tak berkesudahan,
rasakanlah. Mungkin kamu akan merasakan sesak di dada yang membuat air mata
seolah tak mau mengering, menangislah. Mungkin kamu akan merasakan kaki lemah
tak berdaya, istirahatlah. Terimalah bahwa manusia pada dasarnya lemah.
Terimalah bahwa ini adalah bagian dari hidupmu di dunia. Basuh wajah dengan air
wudhu, bersimpuh dan bersujudlah, akui kelemahanmu pada Yang Maha Kuat,
hadapkan wajahmu pada-Nya, mengadu dan meminta.Setelah itu berjalanlah lagi,
temukanlah lagi apa-apa yang kamu cari.
Kamu akan bertemu dengan
orang-orang yang beragam sifat dan karakternya. Tidak semuanya orang baik.
Tidak semuanya mengerti bagaimana harus berlaku dan bersikap terhadap orang
lain. Tidak semuanya bisa diajak saling menghormati dan menghargai. Bahkan
mungkin kamu akan lebih banyak bertemu mereka yang menyakiti dan mengecewakan.
Meski demikian tetaplah berbuat baik, tetaplah menghormati, tetaplah santun
dalam bersikap dan bertingkah laku. Maka kamu akan hidup tenang mengetahui kamu
telah melakukan yang terbaik.
Perhiasan dunia kesayangan ibu,
yang ibu katakan dalam surat ini hanyalah serangkaian kata dan pesan dari
pengalaman. Pada akhirnya, kamu harus menjalani hidup ini sendiri, dengan
tangan dan kakimu sendiri. Berpikir dengan logika, merasa dengan hatimu
sendiri. Harapan ibu, apa yang kamu baca di surat ini akan membantumu
mempertimbangkan apa yang akan kamu lakukan.
Lewat surat ini pula ibu ingin
berkata bahwa selamanya kamu adalah anak perempuan ibu, putri kesayangan ibu
yang akan selalu di hati dan pikiran. Ingatlah selalu bahwa kapanpun kamu butuh
pangkuan untuk mengistirahatkan kepala sebentar, pelukan untuk melepaskan penat
sesaat, pulanglah pada ibu. Pangkuan dan pelukan ibu tidak akan pernah hilang
darimu, karena mereka adalah milikmu selalu.
Kecup peluk sayang selalu untukmu,
-ibu-
Saturday, October 11, 2014
Surat untuk Anak Lelakiku
Saat di perjalanan pulang, di dalam taxi, sendirian, mendengarkan alunan musik yang saya sendiri sudah lupa judulnya. Tiba-tiba terbersit keinginan berbicara pada anak-anak saya, yang mungkin baru akan ada (lahir atau adopsi) beberapa tahun lagi, atau mungkin tak akan pernah ada. Mendadak muncul keinginan bicara panjang lebar, menceritakan tentang hidup dan dunia, pada mereka.
Sesampainya di rumah, meski sudah menginjak tengah malam, saya memaksakan diri menulis sebuah surat yang dialamatkan kepada anak-anak saya nanti. Saya buat dua versi, surat untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Berikut ini adalah surat yang saya tulis untuk anak laki-laki saya nanti. Surat untuk anak perempuan, Insya Allah, akan saya publish besok.
Dalam file Microsoft Word surat ini memakan dua halaman A4, maka saya yakin dalam bentuk blog post akan jadi sebuah artikel yang panjang. Peringatan awal saja bagi siapapun yang kebetulan mampir ke sini.
Sesampainya di rumah, meski sudah menginjak tengah malam, saya memaksakan diri menulis sebuah surat yang dialamatkan kepada anak-anak saya nanti. Saya buat dua versi, surat untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Berikut ini adalah surat yang saya tulis untuk anak laki-laki saya nanti. Surat untuk anak perempuan, Insya Allah, akan saya publish besok.
Dalam file Microsoft Word surat ini memakan dua halaman A4, maka saya yakin dalam bentuk blog post akan jadi sebuah artikel yang panjang. Peringatan awal saja bagi siapapun yang kebetulan mampir ke sini.
Dear anak lelakiku,
Banyaklah berbuat salah,
banyaklah membuat ibu marah. Ibu tidak mengharapkan anak lelaki yang sempurna,
tampan dan cemerlang budi pekertinya. Ibu ingin melihatmu tumbuh menjadi
pribadi yang tangguh. Pribadi yang bijaksana karena ditempa pengalaman,
termasuk di dalamnya pengalaman menjadi salah dan membuat ibu marah, gagal dan
membuat ibu kesal.
Anak lelakiku, kesalahan dan
kegagalan adalah perkara yang tidak akan bisa kamu hindarkan. Menakutkan? Tentu
saja. Jangankan kamu, ibu pun merasakan hal yang sama. Ibu pun
takut berbuat salah dan gagal membesarkanmu menjadi manusia yang baik. Tapi ibu
bertekad bahwa ibu akan melakukan yang terbaik dan menolak menyerah. Nah, hal
yang sama ibu harap bisa kamu tangkap. Sebanyak apapun salah yang kamu perbuat,
asal kamu selalu mau memperbaiki dan berbuat yang lebih baik lagi, hapuslah
sudah kesalahan tadi, berubah jadi pengalaman berharga untuk bekal hidupmu
kelak.
Nak, laki-laki tangguh bukanlah
laki-laki tanpa kelemahan. Laki-laki tangguh adalah laki-laki yang berani
mengakui kelemahannya dan mengenali kekuatannya. Laki-laki tangguh adalah
laki-laki yang tidak membuat dirinya tinggi dengan merendahkan orang lain, ia
menjadi tinggi karena ia tak henti mendaki.
Tentu saja semakin tinggi
mendaki, semakin berat medan yang kamu hadapi. Tapi ingatlah bahwa tidak ada
yang tak mungkin terlampaui. Tuhan sendiri berkata, bahwa Ia tidak akan memberi
ujian kecuali hamba-Nya mampu mengatasi.
Putra kesayangan ibu, Tuhan
menunjuk laki-laki – dirimu – sebagai imam atau pemimpin, maka memimpinlah.
Pemimpin adalah mereka yang tahu kemana melangkah, tahu bagaimana berperilaku,
dan tahu bagaimana menyayangi dan menghargai. Kamu terlahir sebagai pelindung
bagi pasanganmu, perempuan. Bukan, bukan karena laki-laki terlahir lebih kuat
dan hebat, karena di zaman ibu sekarang saja sudah banyak perempuan yang tak
kalah hebat dari laki-laki, apa lagi di zamanmu nanti. Laki-laki terlahir
sebagai pelindung karena kasih sayang dan rasa hormat.
Rasul pernah berkata pada sahabatnya,
saat ditanya mengenai keutamaan antara ibu dan ayah, bahwa ibu adalah lebih
utama sehingga ia menyebutkannya hingga tiga kali sebelum menyebut ayah. Bukan
semata-mata karena ibu yang melahirkan dan membesarkanmu, tapi karena perempuan
memiliki keutamaan yang membuatnya berhak dihargai, dihormati, disayangi, dan
dilindungi. Meskipun banyak perempuan lebih hebat dari laki-laki, tetap saja
mereka perempuan, tak ada bedanya. Mereka tetap ciptaan Tuhan yang berhak
mendapat keutamaan, penghargaan, dan perlindungan. Dari siapa? Dari laki-laki,
darimu.
Pujaan hati ibu, jangan tertipu
dengan iming-iming bahagia. Hidup di dunia ini sudah dibagi porsinya, suka,
duka, luka, semua dijamin ada. Mustahil kamu hidup hanya dalam suka, atau
merasa duka belaka, atau seumur hidup dirundung luka. Karena kamu hidup, kamu
harus merasakan semuanya. Satu hal yang bisa kamu lakukan adalah bertahan dan
tetap berjalan. Bagaimana caranya? Syukur dan ikhlas. Jika kamu selalu
mensyukuri dan menerima dengan tulus apa yang terjadi, peduli duka, luka, atau
suka, maka kamu akan tetap bisa bertahan, hingga akhir waktu Tuhan memanggilmu.
Belajarlah dari apapun yang
terjadi padamu dan siapapun yang berada di sekelilingmu. Mereka semua itulah
yang akan membentuk dan mendewasakanmu. Memberimu bekal menjadi laki-laki
tangguh yang pantang menyerah.
Bolehkah laki-laki menangis?
Boleh. Bagi ibu tangismu adalah wujud kemanusiaanmu. Air matamu adalah bukti
kemampuanmu mengalahkan egomu. Saat kamu tak lagi merasa segan mengeluarkan air
mata dan tampak lemah di depan seorang perempuan, maka kenalkan ia pada ibu.
Kemungkinan besar, dialah yang diciptakan Tuhan sebagai rusukmu, yang terlahir
menjadi penyeimbang hidupmu. Perempuan yang akan menjadi tanggung jawab dan
wajib kamu hormati, sayangi, dan hargai, sepanjang hayatmu.
Anak lelakiku, tak ada satu pun
yang pasti dalam hidup ini, tapi jangan ragu akan kasih sayang ibu yang tanpa akhir akan selalu memelukmu, serta doa
yang tak akan henti menyertaimu. Saat hidup terasa tak tertahankan, saat luka
menguras air mata dan kewarasan, jangan pernah menyerah. Mengadulah pada Maha
Pemilik Kekuatan, basuh tubuh dengan air wudhu, palingkah wajahmu pada-Nya,
meminta.
Tahukah kamu, anakku, apa resep
membuat nyaman di hati? Banyaklah memberi. Ibu bukan bicara harta, ibu bicara
apapun yang kamu punya. Uang, ilmu, bahkan hal sesederhana senyum. Saat kamu
memberi, maka bersiaplah menerima. Hukum hidup ini demikian sederhana, kok. Kamu
menuai apa yang kamu tanam, menerima apa yang kamu berikan.
Setiap kali kamu memutuskan ingin
berbuat sesuatu, berkacalah, lalu tanya pada dirimu, apakah yang kamu lakukan
ini akan membuatmu bangga pada dirimu? Itu saja sebagai langkah awalmu
mengambil keputusan bagaimana berlaku. Jadilah laki-laki yang tegas namun
lembut hatinya, pintar namun sederhana perilakunya.
Ibu tidak akan banyak berpesan
lagi padamu. Saat membaca surat ini tentu kamu sudah cukup dewasa, sehingga ibu
sudah bisa percaya kamu bisa menjalani hidupmu sendiri. Meski demikian, jangan
pernah lupa, ibu akan selalu ada untukmu kapanpun kamu merasa lelah dan ingin
pulang.
Yang selalu mencintaimu,
-ibu-
Tuesday, September 16, 2014
More To Life
The feeling when people found your work amazing while you yourself didn't think it that way.
The feeling when people smiled, shook your hand, and genuinely said thank you.
The feeling when people got something meaningful from your hard work.
The feeling when people hugged you and looked relief knowing you're having his/ her back.
The feeling when people appreciated your hard work.
The feeling when you found yourself growing even more.
The feeling when you could pat yourself in the back and said, "you nailed it".
The feeling when you at last laughed at your troubles.
The feeling when you witnessed other people grow together with you.
Those are the feelings that I won't ever wanted to lose.
The feeling of hope that accompany me living my life.
One day, I will tell my children and grand children, there are more to life than money or any physical avails.
One day, I will show to them that they can be rich with experiences, that courage and perseverance are powerful ammunition to get through almost anything in their life.
One day, I will let them know that giving is actually gaining more rather than losing.
One day, when I die, I want people to remember me as the person that always did her best at anything she's doing, anytime.
Sunday, August 31, 2014
Bahagia Itu Pasti, Kok!
Betul bahwa setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Tidak adil rasanya membandingkan hidup si A, si B, dan hidup kita sendiri. Iri sih sah-sah saja, asal tidak lantas membuat dengki dan gagal mensyukuri apa yang kita miliki.
Sulit memang meyakinkan diri bahwa seringkali bahagia itu sesungguhnya ada dalam hal-hal yang sederhana, sesederhana melihat wajah lucu seorang anak, walaupun bukan anak kita sendiri juga. Sesederhana melihat dan mendengar seorang sahabat mengucap ijab di sebuah akad pernikahan, yang mana bukan pernikahan kita juga. Sebenarnya jika kita tilik ulang setiap perjalanan yang sudah terlewatkan, bahagia itu selalu ada di sana.
Hari ini saya bertemu kawan lama, berusia 30 tahun tapi belum menikah juga, berpacaran pun belum pernah seumur hidupnya. Apakah dia tidak bahagia? Tidak juga. Sebagian dirinya memang sulit menerima pertanyaan-pertanyaan basa-basi orang Indonesia yang seringkali inconsiderate, "Mana pacarnya?" atau "Kapan nikah?". Tapi dia pun tidak memungkiri bahwa dia bisa menemukan kebahagiaan dalam hal-hal lain, selain pernikahan.
Ada yang bilang, kunci kebahagiaan adalah menurunkan level pengharapan. Teorinya, sedikit berharap artinya sedikit kecewa, sedikit kecewa artinya sedikit sedih, sedikit sedih artinya lebih banyak bahagia. Hmmm, tidak salah sih tapi tidak sematematis itu juga ya, sepertinya.
Untuk saya pribadi, kunci kebahagiaan itu tidak ada. Kalau ada dan ada yang bisa memberi tahu, sudah pasti semua manusia di muka bumi ini akan bahagia selamanya. Pada kenyataannya, tidak. Menurut saya, manusia dilahirkan bukan untuk bahagia, bukan untuk menderita juga. Manusia lahir untuk berusaha, ikhtiar sekaligus belajar. Suka atau duka itu efek samping dari ikhtiar dan belajar tadi.
Kalau ikhtiar berhasil ya bahagia toh, kalau gagal ya sedih sebentar, jadikan pelajaran, lalu ikhtiar lagi, belajar lagi. Terus begitu siklusnya, tidak akan berhenti sampai kita mati. Itu sebabnya, rasanya terlalu naif menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan, karena dijadikan tujuan atau tidak, bahagia itu sudah pasti ada, kok. Sama pastinya dengan keberadaan lawan katanya, duka. Kadang-kadang kitanya yang tidak percaya atau salah mengartikan bahwa meraih bahagia itu sama dengan terhindar dari duka dan luka. Bahagia sesempurna itu mustahil di dunia, kalau mau ya, nanti di surga.
Meminjam kata-kata Seth Godin, dalam bukunya The Icarus Deception, kalau hidup ini adalah sebuah video game, tujuannya bukanlah untuk menang, melainkan untuk terus bermain, "The goal is to keep playing, not to win." Pasalnya, di setiap stage permainan, pasti ada kala kita menang, ada masa kita kalah juga, yang menentukan adalah kita, mau berhenti atau lanjut bermain. Kalau lanjut bermain, kita lanjutkan jalani hidup, ikhtiar dan belajar. Kalau berhenti bermain ya berarti mati. Tidak serumit itu kan, ternyata?
Monday, August 18, 2014
Cita-cita
"Nissa, nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?," tanya papa kala itu.
"Mau jadi Ibu Kartini," jawabku yang saat itu masih berusia 4 tahun.
Saat itu aku hanya berpikir, ingin memiliki nama yang harum dan mulia, seperti dalam lagu "Ibu Kita Kartini".
Waktu berjalan, aku beranjak besar. Papa tak pernah absen bertanya, "Nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?," entah karena serius ingin tahu atau mungkin senang saja mendengar jawaban polos dari gadis kecilnya. Semakin besar, jawabanku tak pernah sama. Dari ingin jadi Ibu Kartini, cita-citaku berubah jadi ingin menjadi astronot. Alasannya, karena menurut papa belum ada astronot perempuan, apalagi yang berasal dari Indonesia. Cerita papa rupanya mengobarkan semangat kompetisiku saat itu, maka aku bertekad ingin jadi astronot perempuan dari Indonesia.
Tak bertahan lama, cita-cita ingin jadi astronot pun berubah. Sempat ingin menjadi penyanyi, penulis, arsitek, psikolog, guru TK, copywriter, dan entah apalagi. Rasa-rasanya hanya satu cita-cita yang tidak pernah terucap dari mulutku, dokter. Alasan pertama, karena sudah terlalu umum, aku menolak menjadi bagian dari paham mainstream. Alasan kedua, karena aku takut melihat luka dan banyak darah. Alasan ketiga, karena orang tuaku memang tidak pernah mengelu-elukan profesi dokter seperti kebanyakan orang tua pada masa itu.
Seingatku, terakhir kali papa menanyakan cita-citaku adalah saat usiaku 17 tahun, saat duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu, aku tak lagi ceplas-ceplos, saat menjawab. Sempat putar otak juga untuk menjawab pertanyaan papa kali ini, di tengah-tengah berpikir sambil memandang awang-awang, ada siaran berita di TV. Lalu aku bertanya pada papa, "Pap, kalau yang cari-cari berita terus bacain berita di TV itu, sekolahnya apa?".
"Oh, itu jurnalis namanya. Sekolahnya di ilmu komunikasi, jurusannya jurnalistik," jawab papa.
"Oke, Nissa mau jadi jurnalis aja," jawabku mantap.
Sejak saat itu, aku benar-benar fokus ingin masuk fakultas ilmu komunikasi, itu sebabnya aku lebih memilih masuk kelas IPS daripada IPA, saat kelas 3 SMA, walaupun sebenarnya nilaiku mencukupi untuk masuk IPA. Pikirku, untuk apa buang-buang waktu belajar ilmu eksakta, jika sebenarnya aku ingin mendalami ilmu sosial?
Satu-satunya fakultas ilmu komunikasi yang ada di Indonesia, adalah di Universitas Padjadjaran, dengan passing grade yang cukup tinggi. Terbukti dengan perbandingan 1:1000, artinya di antara 1000 pendaftar, hanya 1 yang lulus. Alhamdulillah, aku termasuk dari sedikit mahasiswa yang lulus. Tak aku sia-siakan, aku belajar sungguh-sungguh, menempatkan seluruh minat dan semangat untuk menjadi jurnalis handal. Modal awalnya, kesukaan menulis. Modal lainnya, nekat dan pantang menyerah. Jadilah!
Walaupun sesungguhnya sangat ingin menjadi wartawan perang yang dikirim ke daerah-daerah konflik, pada akhirnya aku cukup puas terdampar menjadi jurnalis di salah satu majalah arsitektur, di bawah naungan grup penerbitan terbesar di Indonesia, Kompas Gramedia Group. Justru dengan menjadi jurnalis di majalah ini, cita-citaku yang lain, menjadi arsitek, tersalurkan. Sedikit banyak aku jadi tahu teori padu padan warna dan corak, tata ruang, jenis-jenis material, dsb. Rupanya cita-cita menjadi jurnalis hanya berhenti sampai di sini, petualangan berikutnya bahkan lebih seru lagi.
Dua tahun menjadi jurnalis, nasib membawaku ke dunia advertising, lebih tepatnya digital advertising. Sebuah dunia yang tidak pernah terbayangkan akan kusentuh, sebelumnya. Di sini, lagi-lagi cita-cita masa remaja, menjadi copywriter, terwujudkan. Walaupun sesungguhnya menjadi copywriter hanya sambilan saja.
Tak dinyana, pekerjaan di dunia advertising adalah pekerjaan yang membawaku terbang lebih tinggi. Bertemu dan bekerja dengan orang-orang hebat yang tak pelit berbagi ilmu. Di sini, aku belajar lebih banyak soal cita-cita, mimpi, dan apa yang ingin aku capai dalam hidup. Aku tak terlalu peduli dengan karier, posisi, atau jabatan. Aku lebih peduli dengan mengembangkan dan mendewasakan diri, secara personal dan profesional.
Level pembelajaran pun semakin tinggi, saat aku didapuk untuk memimpin sebuah tim. Sungguh tak pernah terbayangkan, Anissa memimpin orang, apa jadinya? Singkat cerita, ternyata memimpin sebuah tim memberikan kenikmatan tersendiri. Menyaksikan orang berkembang dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak berani menjadi berani, dari pemalu jadi percaya diri.
Menjadi pimpinan sebuah tim, seperti menjadi ibu. Punya tanggung jawab membesarkan sekaligus melindungi anak-anaknya, membuat yang melelahkan terasa menyenangkan. Menuntut untuk memberi tanpa henti.
Suatu kali dalam sebuah sesi, di kantor, sekali lagi aku diperdengarkan dengan pertanyaan soal cita-cita, mimpi. Aku teringat pertanyaan papa, "Nissa, nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?". Kali ini sudah tidak perlu putar otak lagi, aku akan menjawab, "Nissa mau tumbuh terus jadi besar dan kuat, sambil memberikan apapun yang Nissa mampu berikan ke orang lain. Dan saat Nissa sudah besar dan kuat, Nissa harus bisa jadi tempat berteduh. Persis seperti pohon, makin tua, makin kokoh dan rindang. Selalu memberikan kesejukan dan setiap bagiannya memberi manfaat."
Maka berhentilah pengembaraan mencari cita-cita. Walaupun menjadi pohon terdengar absurd, tapi ini konsep yang cukup sederhana buatku. Sebuah cita-cita yang tak akan ada ujungnya, selama aku hidup, karena sesungguhnya tujuan hidup adalah terus melakukan sesuatu, bukan berhenti saat satu cita-cita terpenuhi.
"Mau jadi Ibu Kartini," jawabku yang saat itu masih berusia 4 tahun.
Saat itu aku hanya berpikir, ingin memiliki nama yang harum dan mulia, seperti dalam lagu "Ibu Kita Kartini".
Waktu berjalan, aku beranjak besar. Papa tak pernah absen bertanya, "Nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?," entah karena serius ingin tahu atau mungkin senang saja mendengar jawaban polos dari gadis kecilnya. Semakin besar, jawabanku tak pernah sama. Dari ingin jadi Ibu Kartini, cita-citaku berubah jadi ingin menjadi astronot. Alasannya, karena menurut papa belum ada astronot perempuan, apalagi yang berasal dari Indonesia. Cerita papa rupanya mengobarkan semangat kompetisiku saat itu, maka aku bertekad ingin jadi astronot perempuan dari Indonesia.
Tak bertahan lama, cita-cita ingin jadi astronot pun berubah. Sempat ingin menjadi penyanyi, penulis, arsitek, psikolog, guru TK, copywriter, dan entah apalagi. Rasa-rasanya hanya satu cita-cita yang tidak pernah terucap dari mulutku, dokter. Alasan pertama, karena sudah terlalu umum, aku menolak menjadi bagian dari paham mainstream. Alasan kedua, karena aku takut melihat luka dan banyak darah. Alasan ketiga, karena orang tuaku memang tidak pernah mengelu-elukan profesi dokter seperti kebanyakan orang tua pada masa itu.
Seingatku, terakhir kali papa menanyakan cita-citaku adalah saat usiaku 17 tahun, saat duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu, aku tak lagi ceplas-ceplos, saat menjawab. Sempat putar otak juga untuk menjawab pertanyaan papa kali ini, di tengah-tengah berpikir sambil memandang awang-awang, ada siaran berita di TV. Lalu aku bertanya pada papa, "Pap, kalau yang cari-cari berita terus bacain berita di TV itu, sekolahnya apa?".
"Oh, itu jurnalis namanya. Sekolahnya di ilmu komunikasi, jurusannya jurnalistik," jawab papa.
"Oke, Nissa mau jadi jurnalis aja," jawabku mantap.
Sejak saat itu, aku benar-benar fokus ingin masuk fakultas ilmu komunikasi, itu sebabnya aku lebih memilih masuk kelas IPS daripada IPA, saat kelas 3 SMA, walaupun sebenarnya nilaiku mencukupi untuk masuk IPA. Pikirku, untuk apa buang-buang waktu belajar ilmu eksakta, jika sebenarnya aku ingin mendalami ilmu sosial?
Satu-satunya fakultas ilmu komunikasi yang ada di Indonesia, adalah di Universitas Padjadjaran, dengan passing grade yang cukup tinggi. Terbukti dengan perbandingan 1:1000, artinya di antara 1000 pendaftar, hanya 1 yang lulus. Alhamdulillah, aku termasuk dari sedikit mahasiswa yang lulus. Tak aku sia-siakan, aku belajar sungguh-sungguh, menempatkan seluruh minat dan semangat untuk menjadi jurnalis handal. Modal awalnya, kesukaan menulis. Modal lainnya, nekat dan pantang menyerah. Jadilah!
Walaupun sesungguhnya sangat ingin menjadi wartawan perang yang dikirim ke daerah-daerah konflik, pada akhirnya aku cukup puas terdampar menjadi jurnalis di salah satu majalah arsitektur, di bawah naungan grup penerbitan terbesar di Indonesia, Kompas Gramedia Group. Justru dengan menjadi jurnalis di majalah ini, cita-citaku yang lain, menjadi arsitek, tersalurkan. Sedikit banyak aku jadi tahu teori padu padan warna dan corak, tata ruang, jenis-jenis material, dsb. Rupanya cita-cita menjadi jurnalis hanya berhenti sampai di sini, petualangan berikutnya bahkan lebih seru lagi.
Dua tahun menjadi jurnalis, nasib membawaku ke dunia advertising, lebih tepatnya digital advertising. Sebuah dunia yang tidak pernah terbayangkan akan kusentuh, sebelumnya. Di sini, lagi-lagi cita-cita masa remaja, menjadi copywriter, terwujudkan. Walaupun sesungguhnya menjadi copywriter hanya sambilan saja.
Tak dinyana, pekerjaan di dunia advertising adalah pekerjaan yang membawaku terbang lebih tinggi. Bertemu dan bekerja dengan orang-orang hebat yang tak pelit berbagi ilmu. Di sini, aku belajar lebih banyak soal cita-cita, mimpi, dan apa yang ingin aku capai dalam hidup. Aku tak terlalu peduli dengan karier, posisi, atau jabatan. Aku lebih peduli dengan mengembangkan dan mendewasakan diri, secara personal dan profesional.
Level pembelajaran pun semakin tinggi, saat aku didapuk untuk memimpin sebuah tim. Sungguh tak pernah terbayangkan, Anissa memimpin orang, apa jadinya? Singkat cerita, ternyata memimpin sebuah tim memberikan kenikmatan tersendiri. Menyaksikan orang berkembang dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak berani menjadi berani, dari pemalu jadi percaya diri.
Menjadi pimpinan sebuah tim, seperti menjadi ibu. Punya tanggung jawab membesarkan sekaligus melindungi anak-anaknya, membuat yang melelahkan terasa menyenangkan. Menuntut untuk memberi tanpa henti.
Suatu kali dalam sebuah sesi, di kantor, sekali lagi aku diperdengarkan dengan pertanyaan soal cita-cita, mimpi. Aku teringat pertanyaan papa, "Nissa, nanti kalau sudah besar, mau jadi apa?". Kali ini sudah tidak perlu putar otak lagi, aku akan menjawab, "Nissa mau tumbuh terus jadi besar dan kuat, sambil memberikan apapun yang Nissa mampu berikan ke orang lain. Dan saat Nissa sudah besar dan kuat, Nissa harus bisa jadi tempat berteduh. Persis seperti pohon, makin tua, makin kokoh dan rindang. Selalu memberikan kesejukan dan setiap bagiannya memberi manfaat."
Maka berhentilah pengembaraan mencari cita-cita. Walaupun menjadi pohon terdengar absurd, tapi ini konsep yang cukup sederhana buatku. Sebuah cita-cita yang tak akan ada ujungnya, selama aku hidup, karena sesungguhnya tujuan hidup adalah terus melakukan sesuatu, bukan berhenti saat satu cita-cita terpenuhi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
