Seorang kawan pernah berkata bijak, bahwa Tuhan mendesain manusia untuk menjalani aneka tantangan dan cobaan. "Jadi by default manusia itu memang tercipta untuk berjuang, sepanjang usianya, di dunia. Istirahat is not an option, kecuali nanti kalau sudah mati. Itu pun kalau lolos masuk surga," ujarnya.
Kawanku yang satu ini memang selalu tahu harus berkata apa, yang selalu berhasil pula membuatku, yang biasanya ngeyel, cuma bisa manggut-manggut mengamini. Malam itu, saat ia mengeluarkan petuah bijaknya itu, aku sedang dalam kondisi tak menentu. Kepala pening, karena masuk angin akibat terlambat makan. Hati remuk redam, karena siang harinya, setelah sidang ke sekian kalinya, akhirnya aku gagal membela klienku dan harus merelakan statusnya berubah dari tersangka menjadi terdakwa. Kaki pegal, karena terjebak dua jam dalam kemacetan ibu kota yang semakin tidak manusiawi. Pokoknya, aku benci pada dunia, hari itu.
Dalam keadaan dongkol dan mental drop, aku meneleponnya, "Aku mau ketemu sekarang. Aku pengen maraaaah banget!". Dia hanya menjawab singkat, "Oke."
Maka bertemulah kami di sebuah cafe, di rooftop sebuah gedung, di kawasan Kemang. Aku sampai lebih dulu dan memilih tempat duduk dengan view favorit, kerlip lampu dan barisan gedung-gedung tinggi. Dengan pemandangan seperti itu, aku bisa betah berjam-jam hanya melempar pandangan dan berkedip selaras dengan kedipan lampu, dan memang itulah yang tengah aku lakukan malam itu, ketika tiba-tiba terasa ada dua tangan meremas hangat kedua bahuku, "Hey, how was your day, ibu pengacara?," ujar si pemilik tangan, yang kemudian duduk di hadapanku.
Aku habiskan beberapa saat untuk memperhatikan dia yang ada di depan, sementara dia memilih menu untuk makan malam kami. Kulitnya sawo matang, perawakannya tak tinggi - walaupun lebih tinggi dariku, pipi sedikit tembem, dan berkaca mata, jauh dari tampan, deh, pokoknya. Dipikir-pikir, sudah bertahun-tahun kenal dekat, rasanya baru kali ini aku memperhatikan wajah dan tampilan si kawan ini.
"Heeeey, kok bengong? Katanya mau marah, mana? I'm all ears," katanya sambil melambai-lambaikan tangan, di depan wajahku.
Kalimatnya barusan bagai komando bagiku untuk menumpahkan semua hal - dari yang penting sekali, kurang penting, hingga yang sama sekali tak penting - padanya. Rasanya tak kurang dari tiga jam, aku bicara - sambil makan tentunya - dengan ragam emosi yang menyertai, hingga aku akhiri semua kisah dengan pernyataan, "Kenapa, sih, harus begini amat? Kadang-kadang aku capeeeeek banget!!".
Dia tersenyum, mengambil napas panjang, lalu menjawab tiga jam keluh kesah tadi dengan satu kalimat yang saya kutip di awal tulisan ini. Hening sesaat, sebelum akhirnya aku mengangkat bahu dan berkata, "Iya, sih."
Dia menanggapinya dengan tawa lepas, "Hahahahaha, baiklah. Aku tahu harimu berat, hari ini. Let's go home dan bongkar freezer, aku beli satu bucket es krim vanila kesukaanmu. Malam ini akan jadi malammu, let's eat ice cream and I'll company you to watch Sex and the City."
Kala lelah seperti inilah yang justru menjadi momen aku menyadari betapa istimewa sosok kawan yang tampaknya tak istimewa ini. Bersamanya aku tak perlu pura-pura, dia tak meremehkan sekalipun saat bersamanya, aku tak sekeren saat beradu argumentasi di ruang sidang, bahkan seringkali waktu bersamanya adalah waktu yang sarat dengan keluh kesah. Ia pun tak pernah menghakimi, saat aku gagal atau salah langkah.
Momen seperti ini pulalah yang membuatku tak pernah hilang kekaguman dengan kawan yang kukenal, sejak lima tahun lalu. Kawan yang tak hentinya memberikan rasa aman bagiku untuk jadi diri sendiri, jadi manusia biasa, di sisinya. Kawan yang bisa mengintip jiwa lewat bola mata. Kawan yang tak akan bisa habis kusyukuri karena dia selalu bisa jadi tempatku pulang. Kawan yang mengikat janji sehidup semati dan bertemu kembali di surga nanti.
(Ditulis dengan iringan lagu Pulang - Andien)
Thursday, April 30, 2015
Monday, April 6, 2015
Manusia Biasa
Aku suka ketinggian. Gunung, bukit, gedung pencakar langit, atau tempat tinggi manapun yang memungkinkan aku melihat segalanya lebih luas dan lepas. Aku selalu mencari ketinggian, saat raga sudah tak sanggup menahan rasa, saat benak rasanya mau meledak. Seperti malam ini.
Saat hati penuh, rasanya lidah pun kelu untuk berkeluh. Ingin bercerita, tapi tak tahu pada siapa dan mau berkata apa. Hanya pening yang dirasa. Itu sebabnya aku memilih berada di sini, di puncak gedung 20 lantai, bersama desau angin dan kerlip lampu kota, yang kunikmati sendiri.
Berada di ketinggian, membuat jarakku dengan langit lebih dekat, hingga kurasa kata-kata batinku akan tersampaikan dengan mudah dan lengkap, meski penat membuat suara tercekat. Saat menengadah dan menatap langit, rasanya aku kerdil dan lemah sekali, hingga tak kuasa lagi bendungan air mata menahani. Pecahlah sudah, terurai air mata, mengantar cerita dalam setiap bulirnya.
Kadang-kadang kita tak perlu berkata apa-apa, untuk mengungkap luka yang ternyata kita pun tak tahu pasti kapan sembuhnya. Kadang-kadang diam bisa bercerita lebih banyak daripada bicara. Kadang-kadang tanpa aksara pun sajak dapat nyaring bunyinya, melafaskan angkara, duka, kecewa, dan asa yang tak berbalas bertahun lamanya.
Kita ini manusia biasa, yang bisa jatuh lemah tak berdaya tak peduli seberapapun mahirnya kita berlaku jadi ksatria. Manusia biasa bukan batu karang yang kokoh bergeming meski ombak menderu hingga memasuki tiap pori tubuhnya. Manusia punya jiwa yang ada kalanya perlu terpuruk sesaat, berkalang lumpur, dan merendah serendah-rendahnya, di hadapan-Nya yang punya kekuatan di atas segalanya. Sekadar mengaduh, menitipkan beban, menyampaikan harapan, hingga menguras kantung air mata hingga tak bersisa.
Di sini, malam ini, aku absen berkata-kata. Aku hanya ingin limpahkan rasa lewat tatap dan bulir air mata. Hingga lega, hingga ruang dalam hati dan kepala kembali tertata, hingga cukup amunisi untuk kembali jadi ksatria. Menghadapi naik turun gelombang, pertukaran susah senang, hingga tiba saatnya lagi lelah menghadang, maka aku akan mencari tempat tinggi lagi, untuk bercerita pada-Mu lagi.
Monday, March 9, 2015
Qawwam
The phrase "qawwamuna 'ala an-nisa" (An-Nisa, [4]: 34) can be understood as "watch over", "protect", "support", "attend to", "look after", or "be in charge of" women. (Reza Aslan - No God but GOD)
Dari penjelasan secara etimologi saja jelas kan ya, bahwa untuk memenuhi kewajiban sebagai qawwam, memimpin saja tidak cukup. Laki-laki juga punya kewajiban melindungi, mendukung, menjaga, dan bertanggung jawab atas perempuan.
Sebaliknya, ini tidak berarti lantas perempuan bisa ongkang-ongkang kaki. Perempuan berkewajiban menjadi cerdas, kuat, namun lembut hatinya. Laki-laki mengemban tanggung jawab sedemikian berat, memerlukan penyeimbang yang bisa menguatkan. Nah, kalau perempuannya menyek-menyek gak bisa apa-apa, terus bagaimana bisa menguatkan?
Saya percaya agama saya mengajarkan bahwa dalam hidup semua perlu seimbang. Yang satu dilebihkan atas yang lain dalam beberapa hal, supaya bisa saling melengkapi. Ibarat jemari tangan kanan dan kiri, yang jika dikatupkan dapat saling mengisi dan saling terkait, hingga menyatu erat tak meninggalkan rongga.
Sunday, February 22, 2015
Cantik Itu (Versi Papa)
Hubungan ayah dan anak perempuannya memang unik dan menyenangkan untuk disimak. Itu sebabnya, saat sendirian dan pikiran mengembara ke masa kecil, saya kerap meretas kembali bagaimana hubungan saya tumbuh besar di bawah naungan papa. Meski tak sedekat hubungan papa dan anak perempuan seperti di sinetron atau film, untuk saya, peran papa cukup penting dalam meletakkan fondasi cara berpikir dan sudut pandang saya sebagai perempuan, salah satunya dalam hal kecantikan.
"Cantik itu di sini dan di sini," ujar papa saya sembari menunjuk kepala dan dada, saat mendapati saya merajuk karena tak diperbolehkan mempercantik diri dengan kosmetik ala mama. Kalau tak salah ingat, kala itu saya masih berusia 5 tahun-an. Mungkin sekarang malah papa sudah lupa pernah berkata demikian.
Sejak kecil, orang tua saya memang tidak pernah memperkenalkan konsep cantik fisik. Kalau di keluarga-keluarga lain, anak perempuan mungkin sering mendapat julukan "cantik" yang mengacu pada cantiknya wajah, saya tidak. Orang tua, terutama papa, selalu menekankan bahwa cantik itu adalah kecerdasan yang diisyaratkan dengan menunjuk kepala dan kelembutan hati yang diisyaratkan dengan menunjuk dada, sejak saya kecil, hingga sekarang.
Awalnya saya pikir papa bilang begitu hanya untuk melarang saya bermain kosmetik, namun seiring waktu saya beranjak dewasa, saya mulai mengerti apa maksudnya. Papa tidak ingin saya berpikir bahwa cantik adalah paras menawan dan berpenampilan ala bintang-bintang Hollywood. Papa juga tidak mau saya menjadi rentan dengan komentar orang-orang pasal apapun yang berkaitan dengan kondisi fisik, karena kenyataannya perempuan memang mudah sekali terpengaruh dengan komentar-komentar miring tentang penampilan mereka.
Dalam perjalanan usia, saya menemukan tidak sedikit kawan yang trauma karena ketika remaja kerap diejek berwajah jelek, atau berkulit hitam, atau berbadan gendut, dsb. Bukan berarti tidak boleh sakit hati, bagaimanapun bagi seorang perempuan, tampil cantik itu memang penting, tapi harus kehilangan kepercayaan diri "hanya" karena bagaimana orang lain menilai fisik kita, itulah yang papa tidak ingin saya alami.
Tak dinyana, doktrin papa itu rasanya cukup berhasil. Saya tahu kok, saya tidak cantik, justru kalau ada yang memuji saya cantik, rasanya sedikit aneh. Tapi saya tahu bahwa saya punya banyak hal lain yang bisa membuat saya merasa cantik, selain tampilan fisik. Bukankah yang terpenting adalah apa yang kita rasa dan pikirkan? Saat diri sendiri sudah merasa cukup, kita tidak akan merasa perlu pengakuan orang lain, dalam segala hal, tak terkecuali soal cantik atau tidak cantik.
Meski tak yakin berapa persen porsinya, tapi saya yakin doktrin papa mengambil peran yang signifikan, yang membuat saya selalu terpacu untuk belajar lagi dan lagi dan lagi, dan selalu berusaha melakukan apapun dengan hati. Mungkin masih kurang di sana sini, ya wajar, namanya juga berusaha, tapi menyadari dan menerima bahwa kita punya kekurangan dan kelebihan yang memang berbeda dengan perempuan-perempuan lain, membuat segalanya lebih mudah.
Meski masih sedikit nyelekit di hati, ketika saya dibanding-bandingkan (atau tergoda membandingkan diri sendiri) dengan perempuan lain yang (memang) lebih cantik, saya dapat dengan lekas meredakan gejolaknya dengan menyadari bahwa saya memang bukan dia atau mereka. Saya adalah Anissa, perempuan yang punya versi cantik saya sendiri.
Terima kasih papa, legacy ini akan saya teruskan kepada anak perempuan saya nanti. Cantik itu bukan di sini (wajah), tapi di sini (kecerdasan) dan di sini (kelembutan hati).
Saturday, January 31, 2015
Marry Me
Pukul 2 pagi. Ia menghentikan mobilnya, di hamparan tanah lapang berselimut rumput hijau, di kawasan Puncak. Sekeliling kami gelap, satu-satunya sumber cahaya hanya dari lampu depan mobil yang kami kendarai.
Kami berdua diam menikmati hening sejenak, sembari menatap langit dini hari yang penuh bintang, cantik sekali.
Ia menyalakan radio, sayup-sayup terdengar suara Ed Sheeran melantunkan lagu favorit kami berdua, Thinking Out Loud. Volume radio kunaikkan, hingga hening pun pecah oleh lantunan suara sang penyanyi. Ia membuka pintu mobil, keluar, dan berdiri di depan mobil, satu-satunya area yang cukup terang. Aku mengikutinya.
Kami berdiri berhadapan, ia menawarkan tangannya, mengajakku berdansa mengiringi lagu yang terdengar dari radio, di dalam mobil. Kuraih tangannya, kami pun berdansa. Ia memeluk pinggangku, aku melingkarkan lengan di lehernya. Tak ada kata terucap. Kami benar-benar larut dalam setiap emosi yang mengalir dari tiap lirik lagu dan alunan musiknya.
Ia menarik tubuhku lebih dekat, hingga kami berpelukan.
"Marry me," bisiknya di telinga kananku.
"Okay," bisikku membalas, di telinga kanannya.
Ia memelukku lebih erat, masih berdansa.
"I love you," bisiknya lagi.
"I know you do," balasku berbisik.
Kubenamkan wajahku lebih dalam ke pelukannya. Ia membelai kepalaku. Kami masih berpelukan, berdansa, meski lantunan suara Ed Sheeran tak lagi terdengar. Kami terlalu lega - lebih dari sekadar bahagia - hingga tak ingin kehilangan sedetik pun momen ini, setidaknya hingga matahari menggantikan kerlipan bintang malam ini.
(Ditulis dengan iringan lagu Ed Sheeran, Thinking Out Loud)
Kami berdua diam menikmati hening sejenak, sembari menatap langit dini hari yang penuh bintang, cantik sekali.
Ia menyalakan radio, sayup-sayup terdengar suara Ed Sheeran melantunkan lagu favorit kami berdua, Thinking Out Loud. Volume radio kunaikkan, hingga hening pun pecah oleh lantunan suara sang penyanyi. Ia membuka pintu mobil, keluar, dan berdiri di depan mobil, satu-satunya area yang cukup terang. Aku mengikutinya.
Kami berdiri berhadapan, ia menawarkan tangannya, mengajakku berdansa mengiringi lagu yang terdengar dari radio, di dalam mobil. Kuraih tangannya, kami pun berdansa. Ia memeluk pinggangku, aku melingkarkan lengan di lehernya. Tak ada kata terucap. Kami benar-benar larut dalam setiap emosi yang mengalir dari tiap lirik lagu dan alunan musiknya.
Ia menarik tubuhku lebih dekat, hingga kami berpelukan.
"Marry me," bisiknya di telinga kananku.
"Okay," bisikku membalas, di telinga kanannya.
Ia memelukku lebih erat, masih berdansa.
"I love you," bisiknya lagi.
"I know you do," balasku berbisik.
Kubenamkan wajahku lebih dalam ke pelukannya. Ia membelai kepalaku. Kami masih berpelukan, berdansa, meski lantunan suara Ed Sheeran tak lagi terdengar. Kami terlalu lega - lebih dari sekadar bahagia - hingga tak ingin kehilangan sedetik pun momen ini, setidaknya hingga matahari menggantikan kerlipan bintang malam ini.
(Ditulis dengan iringan lagu Ed Sheeran, Thinking Out Loud)
Subscribe to:
Posts (Atom)
