Sunday, January 29, 2017

Ironi

Tahukah kau, aku datang mengunjungi dan menatap wajahmu 70 kali dalam satu hari? Yaaah, kurang lebih 20 menit sekali wajahmu dan wajahku berhadap-hadapan. Sayangnya, kau - seperti halnya manusia lainnya - tak bisa melihat aku, sementara aku memandang jauh ke dalam matamu.

Aku melihat senyummu, pun jadi saksi kepedihan hati dan air matamu. Sejak kau dalam buaian, hingga puluhan tahun kemudian, kau tumbuh jadi wanita dewasa. Akulah sejatinya saksi perjuangan.
Aku di sisimu, saat ayah dan ibu bergantian menghujanimu dengan makian dan sumpah serapah. Aku di dekatmu, saat kau meraih gelar juara kelas dan wajahmu berseri dengan kebanggaan. Aku tak jauh, saat hatimu hancur berkeping-keping hingga kau tak mau lagi percaya pada cinta. Aku ada, saat dokter memvonismu dengan kanker otak. Aku bersamamu.

Sekian tahun aku menyaksikan susah senang bergantian mewarnai hidupmu, tak pernah aku melihat senyum semanis dan binar mata secerah apa yang aku lihat di wajahmu, hari ini. Langkahmu cepat nyaris melompat. Lenganmu mengayun bebas seperti menari. Rambutmu kau biarkan tergerai berhamburan tertiup angin. Aku lahir tanpa hati. Tanpa emosi. Tapi aku tahu beda luka dan suka cita. Kau hari ini, jelas tengah bahagia.

Kau tak henti tersenyum, bahkan setelah masuk dan duduk dalam gerbong kereta yang biasa kau naiki untuk pulang. Senyum yang membuat penumpang lain pun tak tahan untuk turut tersenyum atau kasak kusuk berbisik-bisik, mungkin mengiramu gila. Seorang pria duduk di sebelahmu, memandang wajahmu, turut tersenyum mengiringi senyummu, hingga tak tahan ia bertanya, “Hai, aku perhatikan kau tak henti tersenyum sedari tadi, ada apakah yang terjadi hari ini?”.

Kau menoleh. Kini wajahmu dan wajahnya berhadapan, dekat sekali. Seperti saat wajahku dan wajahmu bertemu. Masih dengan senyum terkembang di wajahmu, kau memberikan sebuah amplop kepada si pria. Memberi isyarat agar ia membuka dan membacanya.

“Wow! A cancer survivor!,” seru si pria setelah membaca hasil pemeriksaan, di dalam amplop.

Kamu mengangguk kencang, masih dengan senyum terkembang.

Si pria pun memelukmu erat, menyatakan rasa turut bahagia. Kau pun mulai membagi aneka rencana yang ingin kau lakukan untuk mensyukuri nikmat usia dan hidup yang hanya sekali. Si pria bertepuk memberi semangat. Tanpa terasa kebahagiaanmu mulai merambati hatinya, membuatnya bahagia juga. Saking indahnya, hingga aku pun tersenyum menyaksikannya.

Kereta pun mendekati stasiun tempatmu turun. Kau bersiap mengucap selamat tinggal pada si pria, setelah kalian bertukar nama dan nomor telepon. Keretamu tak berhenti lama, kau beranjak setengah berlari, tak menyadari tumpukan kardus di sisi pintu. 

Kau tersandung, tubuhmu limbung.Terjatuh tepat saat pintu kereta tertutup dan menjepit sebelah kakimu. Tubuhmu terseret, saat kereta mulai berjalan. Seluruh penumpang berteriak meminta masinis menghentikan kereta. Sayangnya, kereta tak seperti sepeda yang bisa berhenti seketika. Saat kereta akhirnya berhenti, kau sudah terlanjur terseret beberapa meter jauhnya. 

Wajah bersimbah darah. Beberapa tulang di bagian tubuh, patah. Napas tersengal mencoba bertahan. 

Di ujung waktu, barulah kau - seperti halnya manusia lainnya - bisa melihatku. Aku masih menampilkan senyum yang kudapat dari melihat senyummu. 

Bibirmu lirih bertanya, "Mengapa?"

Aku meraih tanganmu, membelai kepalamu. Aku lahir tanpa hati. Tanpa emosi. Aku hanya berjaga untuk mencabut nyawa, ketika waktunya tiba. Persoalan mengapa adalah misteri yang aku pun tak punya jawabannya. 

"Tuhanmu memanggilmu," jawabku.



Friday, April 8, 2016

Rapuh

Aku tidak pernah menyangka, hati sedemikian rapuh. Bisa patah, bahkan sebelum jatuh.
Kamu adalah rindu yang kusebut dalam tabu. Kasih yang kubelai dalam perih.

"Tidak seharusnya kamu menempatkan diri di posisi itu," kata temanku.
"Posisi itu? Maksudmu?," tanyaku mengernyitkan kening, bersiap mengungkap tak setuju.
"Kamu berada di posisi yang tak bisa menghindar dari rapuh," kata temanku lagi.

Ia duduk mendekat hingga bahu kami bersentuhan. Diusapnya punggungku lembut, mencoba meredakan gemuruh yang tercermin dalam raut muka, yang mungkin tertangkap oleh matanya.

"Kamu baik, terlalu baik. Kamu kuat, terlalu kuat," lanjutnya.

Aku diam.

"Aku tahu kamu mampu, itu sebabnya kamu lebih memilih memberi daripada meminta. Kamu lebih memilih melihat senyumnya daripada senyum di wajahmu sendiri."

Aku menunduk menyembunyikan sendu.

"Dia itu bukan milikmu. Sebesar dunia pun cintamu, tak akan menjadikan dia milikmu. Pun ketika ia mengikrarkan rasa yang sama, tak ada bedanya. Tetap saja, dia dan kamu, tak punya asa."

Sesak mulai menekan dada dan kerongkongan.

"Saat ini kamu ditipu khayalmu sendiri. Kamu pikir dia akan melindungimu? Tidak. Dia tak punya kuasa. Dia hanya bisa berucap maaf, lalu berlalu. Atau dia hanya bisa melihatmu dalam lara menatap gores-gores luka. Dia tak akan bisa berbuat apa-apa."

Napasku mulai tersengal, karena berat terasa.

"Kamu akan selalu jadi urutan entah ke berapa dalam daftar manusia dalam hidupnya. Tak peduli seberapa kata diungkapnya untuk unjuk bahwa kamu istimewa. Pada akhirnya semua kosong belaka. Untukmu, dia tak akan ada."

Hawa panas seperti mengepung kelopak mata.

"Jika dia harus memilih orang yang harus dia sakiti untuk bertahan, dia akan memilihmu. Kamu adalah orang yang akan patah hatinya. Dan dapat kubayangkan, kamu akan dengan suka rela mematahkan hatimu, demi melihatnya baik-baik saja."

Tak tertahan lagi gelegak air mata memenuhi kantung mata.

"Ah, aku selalu bingung bagaimana kamu bisa melakukannya. Bagaimana kamu bisa merelakan semuanya lalu tak mengharap apa-apa. Kadang-kadang buatku itu tolol, tapi tak jarang pun akhirnya aku berdecak terpana karena kagum akan kuatnya kasih sayang yang kamu punya."

Punggungku mulai bergetar. Aku sesenggukan. Duniaku terasa goyah. Dia menyuarakan semua yang selama ini aku bungkam.

Aku menggenggam erat lengannya, meminta ia jangan dulu beranjak.

Diusapnya kepalaku dengan sayang. Direngkuhnya bahuku dengan sabar. Ia tahu, ia sudah tak perlu berkata apa-apa lagi.Ia tahu bahwa aku telah rapuh dan membutuhkannya untuk menumpahkan keluh. Meski tak lewat kata maupun aksara, melainkan lewat air mata.

Ia percaya, air mata adalah tanda bahwa hati masih ada.

(Ditulis sambil mendengarkan All I Ask by Leroy Sanchez)

Monday, October 12, 2015

She

One thing that I can never stop noticing from her is how easy she became excited about everything, even the smallest things that come in her way. The things that for me, and maybe for most people, look so ordinary and even dreary.

I asked her once about this, and the answer was struck me in the heart, up until now. With a smile in her face, she said;

"Nothing's last forever. Good things don't last forever, nor bad things. I easily excited about things because I want to embrace anything that has, is, and will happen. I always believe that even the things that you think is so ordinary has potential to make you happy, try to see it in different way."

This girl will never stops captivating me. Just being around her is making me comfortable. I really hope she'll find eternal happiness in life, as she is a sweet little creature with a big heart.

Wednesday, September 30, 2015

Cinta Itu Apa?

Tangan kecilmu menggandeng tanganku. Kemudian wajah polosmu menengadah menatapku sembari bertanya, "Ibu, cinta itu apa?"

Aku menghentikan langkahku dengan setengah terkejut. Kutatap balik wajah mungilmu sembari mengulas senyum. Aku berjongkok di depanmu, agar wajahmu dan wajahku saling berhadapan. Aku balik bertanya, "Saat ada ibu di dekatmu, apa yang kau rasakan?".

"Mmmm, senang. Tidak takut. Mau dipeluk terus," jawabmu, yang kemudian kubalas dengan senyum lagi. 

"Kalau ibu tak ada di dekatmu?", tanyaku lagi.

"Jangaaaan! Ibu mau ke mana? Ibu tak boleh pergi. Aku takut," jawabmu setengah merengek dengan bibir mengkerut menahan tangis. 

Kubelai rambutmu dan kutanya lagi, "Kalau ibu sedih atau menangis, apa yang akan kamu lakukan?".

"Aku akan peluk ibu dan bilang, 'ibu jangan sedih, ada aku menemanimu'," jawabmu dengan senyum ceria.

Tak kuat aku menahan senyum terkembang. Ku usap pipimu dan bertanya lagi, "Kalau ada yang jahat pada ibu, apa yang akan kau lakukan?".

"Aku marahi dia. Aku pukul dia. Aku tendang kakinya," jawabmu berapi-api sembari mengepalkan jemari kecilmu dan mengacungkannya ke depan.

"Kalau ibu sakit?", tanyaku lagi.

"Aku sedih. Aku akan bawa ibu ke dokter. Lalu aku berdoa pada Allah, 'Ya Allah, sembuhkan ibuku, buang penyakitnya, karena aku mau lihat ibu tersenyum lagi'," ujarmu sembari menengadah memeragakan orang yang sedang berdoa. 

"Itulah cinta. Kau senang saat bersamanya, takut kehilangan, merindu saat jauh, menghibur saat sedih, membela tanpa pamrih, dan yang paling luar biasa, menyebut namanya dalam doa, " ujarku sembari membelai rambutmu. Matamu mengerjap lucu.

"Aku cinta ibu. Ibu cinta aku?," tanyamu.

"Cinta ibu untukmu sudah ada bahkan sebelum kau ada. Cinta ibu untukmu akan mengajarkanmu untuk mencinta juga. Cinta ibu untukmu bisa memindahkan gunung, saking kuatnya. Menarik bulan, saking rekatnya. Mencipta pelangi, saking indahnya," kataku lagi.

"Itu pasti artinya, ibu cintaaaaaa sekali sama aku," ujarmu girang kemudian memelukku erat sekali.

"Iya, iya. Ibu cintaaaaa sekali padamu," ujarku penuh bungah dan haru.

(Ditulis sembari mendengarkan lagu For You I Will - Monica)

Friday, August 28, 2015

Punya Anak atau Tidak?

Hidup itu penuh dengan pilihan. Mau menikah atau tidak? Kalau sudah menikah, mau tetap bekerja atau jadi ibu rumah tangga full time? Mau punya anak atau tidak? Kalau pun punya anak, mau melahirkan sendiri atau adopsi saja? Itu baru sedikit contoh dari sekian banyak pilihan yang akan ada di hadapan kita, saat kita beranjak dewasa.

Mengapa pernikahan dan keluarga yang saya jadikan contoh, di atas? Karena saya tergelitik oleh sebuah artikel atau blog post seorang perempuan yang menyatakan sikapnya, bahwa dia tidak mau punya anak, yang banyak beredar di media sosial, terutama Facebook. Saya sendiri tidak mau memberikan penilaian apa-apa, karena saya percaya hidup memang adalah pilihan. Lebih tepatnya, rentetan pilihan dengan tanggung jawab yang mengikuti setelahnya.

Kembali ke soal keluarga, pernikahan dan anak. Pertanyaan yang sampai saat ini masih datang pada saya, setelah perceraian dan mantan suami saya menikah lagi, adalah, “Nissa mau nikah lagi, gak?”. Biasanya saya menanggapi dengan jawaban, “Kalau memang masih ada jodohnya, saya tidak bisa menolak, kan? Tapi kalau pun memang harus hidup sendirian, saya juga siap.” Dalam perkara ini, saya tidak memilih mau menikah lagi atau tidak, saya memilih untuk menyiapkan diri apapun kemungkinan yang terjadi di depan.

Pertanyaan lain yang kemudian ditanyakan adalah, “Cari suami lagilah, emang kamu gak pengen punya anak?”. Membangun keluarga adalah cita-cita buat saya. Sebuah warisan yang ingin saya tinggalkan, jika nanti tiba waktunya saya dipanggil oleh Maha Pencipta. Tapi membangun keluarga, buat saya, tidak lagi erat hubungannya dengan punya suami atau tidak. Untuk saya, kalau memang tidak ada jodohnya lagi, bukan berarti saya tidak bisa membangun keluarga lagi. Saya bisa membesarkan anak-anak yang kurang beruntung bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan dibesarkan di dalam lingkungan yang baik, bukan begitu? Menjadi seorang ibu kan tidak selalu berarti harus melahirkan, justru tanggung jawab setelahnyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan.

Membesarkan anak adalah the ultimate dream untuk saya. Mulai dari hal-hal kecil seperti menyanyikan lagu nina bobo atau membacakan cerita pengantar tidur, hingga memilih sekolah yang baik dan mengajarkan mereka nilai-nilai kehidupan, adalah tantangan yang di satu sisi membuat takut, namun di sisi lain membuat hati tergetar. Apapun yang saya lakukan sekarang memang adalah untuk mempersiapkan hidup saya ke depan, termasuk di dalamnya suatu saat nanti saya ingin membesarkan anak, anak siapapun itu.

Saya tidak akan mencemooh mereka yang memilih untuk enggan mengemban tanggung jawab maha berat sebagai seorang ibu, pun tidak lantas mengagungkan mereka yang dengan senang hati menjadi ibu. Keduanya punya cerita dan latar belakang masing-masing yang mungkin kita tidak bisa lihat. Bukankah semua orang punya perjuangan mereka masing-masing? Tidak ada satu pun dari kita yang berhak menghakimi orang lain, apa lagi kalau kita tidak tahu apa-apa tentang mereka. 

Punya anak atau tidak, setiap manusia pasti punya tujuan hidupnya sendiri-sendiri dan setiap tujuan pun ada jalannya masing-masing. Selama tidak merugikan dan menyakiti orang lain, pun dijalani dengan penuh tanggung jawab atas segala konsekuensi, menurut saya, pilihan apapun sah-sah saja. Urusan dengan agama dan Tuhan, saya tidak bisa ikut-ikutan, karena itu hubungan personal seseorang dengan penciptanya.